This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Saturday, 7 March 2015

Bukan Happy Ending, Not Sad Ending



Bukan Happy Ending, Not Sad Ending

            “Tiaraaaaaaaaaa”, teriak Salma dari dalam kelas, hingga seluruh isi kelas pagi itu yang hanya beberapa anak, menoleh padanya
            “Apa sih non? Pagi pagi udah teriak”. Jawabku polos tanpa rasa bersalah sambil masuk ke kelas. Sebenarnya aku sudah tau kenapa Salma teriak teriak memanggil namaku.
            “kurang kerjaan ya, pakek nulis nulis di bukuku namanya Tino. Kalau kurang kerjaan, di rumahku banyak”. Jawabnya kesal dengan terus menghapus tulisan Tino di bukunya. Aku sengaja menulis nama Tino dibukunya bagian tengah, besar sekali.
            “hahaha, gak usah gengsi lah. Udah pada tau kok, kalau kamu suka Tino dari dulu”. Jawabku
            “tau ah, daripada kamu suka sama Kak Ardan sejak kelas satu gak kesampaian dapet nomernya. Kalau aku kan udah smsan”. Ejek Salma, yang pergi begitu saja keluar kelas. Aku hanya diam tak menjawab perkataan Salma. Ya memang aku menyukai kakak kelas angkatan di atasku sejak aku masuk SMAN 1 Malang ini. Dan sampai aku kelas 2 pun aku belum bisa dapatkan nomornya. Aku hanya berkomunikasi melalui Facebook. Dia adalah ketua Tim IT di sekolah, dan aku pengurus osis bagian koordinator bidang teknologi. Jadi aku masih bisa berhubungan dengannya dengan alasan kerjasama organisasi. Sungguh cinta yang aneh. Aku tak begitu dekat mengenal kak Ardan. Tapi cinta yang tumbuh ini, mampu membuatku menolak berbagai macam cowok. Jujur saja, aku bukan cewek cantik, pinter, modis, dan terkenal di sekolah. Tapi entah bagaimana banyak cowok, mulai dari adek kelas, teman seangkatan, hingga kakak kelas banyak yang menyatakan cinta sama aku. Tapi tetap hatiku hanya pada Kak Ardan. Begitupun dengan kak Ardan. Dia banyak sekali yang mengenal dan ngefans dengannya. Wahh sainganku banyak
            Saat ulang tahun kak Ardan, banyak yang mengucapkan selamat ulang tahun, dan memberinya kado secara terang terangan. Sedangkan aku, tak punya nyali sama sekali, menyapanya saja di sekolah aku tak berani. Aku hanya dekat dengannya di jejaring sosial saja. Kak Ardan pun juga tak pernah menyapaku di sekolah. Padahal kalau di jejaring sosial, dia cerewet banget sama aku. Aku juga hanya mengucapkan selamat ulang tahun di facebook. Saat malam hari, aku online. Tiba tiba kak Ardan mengirimnkan emoticon di jendela chatting,
Bahri Ardan    : [sad]
Tiara Mutiara   : ?? Ada apa kak
Bahri Ardan    : aku gak dapet kado
Tiara Mutiara   : lohh bukannya banyak yang ngasih ya
Bahri Ardan    : kurang, ada sesorang yang aku harap memberikan kado di hari ulang tahunku yang ini. Tapi malah gak ngasih kado. [sad]
Tiara Mutiara   : wahh, emang siapa kak? Orang yang kakak suka ya
Bahri Ardan    : aku juga gak tau, aku suka dia apa ndak, tapi dia orang yang seru, deket lagi sama aku. Tapi aku gak tau nomer Hpnya dan dia gak berusaha minta ke aku gitu, atau nyapa aku di sekolah
Tiara Mutiara : yaa gengsi kali kak dia minta, dia kan cewek. Ya kakak dong yang minta dulu, siapa kak? Adek kelas atau teman seangkatan
Bahri Ardan    : adek kelas. Iya kali ya, aku aja yang minta
Tiara Mutiara   : iya kak [smile]

Seketika hati langsung kacau, antara sok kepedean dan drop. Aku diposisi sebagai adek kelasnya, tapi belum tentu aku. Karena masih ada banyak adek kelas yang tak memberinya kado yang mungkin juga deket dengan kak Ardan. 15 menit sudah dia tak membalas chattingku. Chattingku hanya di baca. Benarkan bukan aku yang dia maksud. Mungkin sekarang dia lagi chattingan dengan adek kelas yang dia harapkan. Ku tutup jendela chattingku dengan kak Ardan. Langsung ku refresh beranda facebookku. Dengan hati yang sakit, aku baca status kak Ardan, yang dibuat sekitar semenit yang lalu. Itu artinya dia seharusnya membalas chattingku. Dia buat status,
!aku mau tau nomernya, mau tau dia, dan kenal lebih dengannya. Tapi dia tak merasa, dia cuek, gak peka.!
Yah aku hanya meninggal jempol atau like di statusnya, dan offline dari facebook. Aku berbaring di kasur. Melihat ke atap langit kamar. Terbayang wajah kak Ardan tersenyum. Aku bangkit dan aku buka kotak kado yang seharusnya ada di tangan kak Ardan. Sayang aku tak berani memberikannya. Yah aku berniat memberikan jam tangan dan gantungan kunci bertuliskan M. Ardan Bahri itu secara diam diam. Tapi situasi dan kondisinya tak ada yang sesuai. Walau sebenarnya satu minggu sekali, aku berangkat pagi pagi hanya untuk meletakkan coklat di mejanya, dengan selalu ku beri note kecil “selamat pagi coklat”. Dan ini adalah minggu ke delapan, dan coklat ke delapan untuk kak Ardan. Sayang dia gak pernah cerita bahwa dia selalu dapet kiriman coklat dari sesorang, atau update status. Jadi aku pun tak tau gimana kabar delapan coklatku itu. Padahal jika mendapat hadiah dadakan, atau suatu kejadian, dia selalu cerita. Ya aku dan kak Ardan memang bertukar curhat di facebook. Just di facebook. Semakin hari kedekatanku dengan kak Ardan semakin terlihat olehku dan kak Ardan saja. Sekali lagi hanya di facebook. Tak hanya kak Ardan yang sering dapet kiriman misterius di meja, termasuk aku pengirimnya. Aku juga sering dapet kiriman gak jelas di mejaku. Kertas bertuliskan selamat pagi, sebuah apel, susu coklat kemasan, sebuah jeruk, dan masih banyak lagi hingga coklat batangan sisa. Sungguh sungguh aneh. Masak ya kirimannya begituan. Semuanya sebuah, terus terkadang sisa, atau setengah. Parahnya aku. Yang ngefans sama aku pelit benget. Tapi setidaknya aku punya penggemar rahasia. Kak Ardan gak pernah cerita kalau dapet gituan, kalau aku selalu cerita ke dia.
Hari hariku berjalan dengan senyuman tidak kepastian. Aku bisa dekat dengan orang yang ku suka, tapi tak pernah dekat secara nyata, hanya di dunia maya. Aku ingin sekali menyapanya. Tapi rasa malu selalu memelukku. Aku juga terus berusaha mencari alamat rumahnya, mungkin saja aku bisa menaruh kado ulang tahun untuknya di depan pintu rumahnya, sebelum kelulusannya. Sayang mencari alamat rumahnya sangat sangat sulit. Apalagi aku mencari dengan sembunyi sembunyi. Saat malam hari aku online facebook tiba tiba kak Ardan mengirimiku pesan
Bahri Ardan    :hay adekku, sibuk ya
Tiara Mutiara :hay juga kak, gak tuh, lagi free banget, ada apa tumben. Udah lama gak chatt
Bahri Ardan    :haha iya dek, aku masih sibuk persiapan ujian. Oh ya udah deh kalau gak sibuk, paling tidak ak ada temennya begadang.
Tiara Mutiara   :bagadang? Kenapa harus begadang
Bahri Ardan    :ya biasalah nongkrong bareng temen temen di depan gang. Malam minggunya jomblowan kah gitu
Tiara Mutiara   :lah kalau nongkrong sama temen temen, kenapa masih cari temen
Bahri Ardan    :gak boleh ta? Ya gak apa apa kalau gak boleh [sad]
Tiara Mutiara :haha gak apa apa lah, cuman aneh aja. Jangan cemberutlah. Smile dong [smile]
Bahri Ardan    :ehh kirain gak boleh. Ya gak apa apa, temen temenku lagi sibuk bincang bincang sendiri, smsan sama pacarnya. Jadi ya aku cari temen
Tiara Mutiara   :ohh jadi aku cuman di cari ketika sendiri nih
Bahri Ardan    :ehh adekku sayang, bukan gitu. Cuman lagi pengen aja chatting sama kamu
Tiara Mutiara :haha iya kak. Lagi dimana nih’
Bahri Ardan    :lagi di pos kamling depan gang rumah. Kamu dek?’
Tiara Mutiara   :lagi online di rumah kak,, ohh mau jaga malam ya’
Bahri Ardan    :hahaha ya begitulah, lagian tadi ada kecelakaan di depan gang jadi banyak orang disini’

“ini kesempatanku untuk mencari alamat rumah kak Ardan”. Kataku dalam hati

Tiara Mutiara   :ohh parah ya
Bahri Ardan    :ya lumayan, antara sepeda dan truk pengangkut tebu. Lumayan ada tebu gratis’
Tiara Mutiara   :hahah modus ya’
Bahri Ardan    :hahaha. Emm dek boleh nanya gak?’
Tiara Mutiara   :emm boleh, emang nanya apa?
Bahri Ardan    :udah punya pacar?’
Tiara Mutiara   :belum. Emang kenapa kak?’ kenapa tanya gitu yah, wahh
Bahri Ardan    :gak apa apa, cuman gak mau aja dikira orang ketiga, baguslah agak tenang chattingan sama orang sesama jomblo’
Tiara Mutiara   :ohh.. hahah okelah kak. Gak masalah’

Chattinganku berjalan mulus malam itu, hingga jam 12 malam lebih. Aku juga smsan dengan Salma untuk menanyakan alamat rumah kak Ardan, dengan ciri ciri, ada pos di depan gangnya, dan sempat terjadi kecelakan di depan gang antara sepeda motor dan truk. Setelah beberapa menit menunngu balasan dari Salma, akhirnya Hpku berdering, sms dari Salma,
<Ra, aku dapet informasi lokasi kecelakaan itu, ada di desa Dinoyo, kecamaatan Lowokwaru. Kalau posisi gangnya ada di dekat perempatan jalan ke arah barat >
<oh mungkin alamat rumah kak Ardan ada di daerah itu>
<ya pokoknya kalau kak Ardan gak bohong, berarti benar>
<okkeh deh, aku coba jalan jalan lewat sana>

“alamat ini dekat sekali dengan rumah kak Ina, apakah nanti dia gak curiga ya. Kan rumahku lumayan jauh dari sana. Gak mungkin kalau aku hanya jalan jalan. Dan aku juga gak punya kenalan di sana. Apa aku pura pura main ke rumahnya kak Ina. Tapi dengan alasan apa”. Kata hatiku.
Aku bingung sekali cari cara ke sana. Aku berfikir keras mencari cara. Karena mondar mandir kebingungan, aku tak sengaja menjatuhkan majalah katalog yang aku pinjam dari kak Ina beberapa minggu lalu.
“ini jalannya”. Teriakku dari dalam kamar
“Tiaraaa. Kebiasaan deh, udah malam ini”. Kata mama
“maaf ma”. Balasku kegirangan
            Keesokan paginya, aku mengirim pesan ke Salma.
            <aku jemput pukul 8. Siap gak siap aku jemput. Mau gak mau harus ikut>
            <kebiasaan kamu [marah]>
<no commnent>

Pukul 8 kurang 10, aku sudah bertengger di depan rumah Salma.
“Assalamu’alaikum Salmaaaa”. Aku masuk ke halaman rumahnya
“ehh Tiara, masuk dulu. Salmanya masih ganti baju”. Sapa Ibunya Salma, tante Ida
“iy te, makasih”
“kebiasaan kamu Ra, bikin janji dadakan mulu. Kenapa gak kemaren malam sih”. Gerutunya dengan membenarkan jilbabnya
“udalah, no comment. Udah yuk”. Aku menariknya ke dalam untuk berpamitan
“te kami berangkat dulu. Assalamu’alaikum”. Bersalaman dengn tante Ida
“iya hati hati ya. Jangan malam malam”. Pesan tante Ida
“tenang tante. Aku pinjam dulu ya Salmanya”. Aku menarik Salma keluar rumah
“emang mau kemana sih kita”. Tanyanya sambil memakai helm
“smsku kemarin”. Jawabku santai sambil menyalakan sepeda
“hahaha kesambet kamu ya. Ke alamatnya kak Ardan. Itu deket sama rumahnya kak Ina. Cari masalah ya”. Cerocos Salma
“emang ada apa sih”. Tanyaku heran
“kak Ina udah suka sama kak Ardan sejak dulu”. Katanya berbisik
“hah?”. Aku shock, aku hanya bisa diam setelah itu. Aku meyerahkan kunci sepeda ke Salma
“aku akan tetap ke rumahnya kak Ina. Untuk mengembalikan buku ini”. Ku perlihatkan sebuah majalah katalog
“dan aku akan tetap korek informasi tentang rumah kak Ardan, hanya untuk meyerahkan kado itu”. Jawabku sedih. Dan aku turun untuk berpindah ke belakang
“sabar ya, aku bantu kok”. Salma mengusap air mata yang mengalir ke pipiku
“makasih”. Langsung ku tutup kaca helmku agar tak ketahuan, kalau aku habis nangis.
Sepeda matic itu berjalan menyusuri jalan hingga masuk ke dalam suatu gang. Di depan gang itu ada sebuah pos kamling. Aku dan Salma langsung meyusuri ke dalam gang, hingga sampai di depan rumah kak Ina. Aku turun dan masuk ke halaman rumah kak Ina. Sangat beruntung kak Ina ada di depan rumah
“hay adekku. Tumbenan ke sini. Loh itu Salma ya, masuk Ma”. Sapa kak Ina
“ya kak, niat sebenarnya ke sini. Mau ngembalikin ini”. Kuberikan katalog itu.
“ohh katalog ini, iya aku sempat lupa kalau kamu pinjam. Aku shock, ku kira hilang. Masuk deh”.  Suruhya
“iya kak”. Kataku dan Salma bersama

“mungkin sekali jika kak Ardan jatuh cinta padanya, dia begitu baik”. Kataku sedih dalam hati.Aku mengobrol banyak sama kak Ina, hingga aku mencoba menyinggung, untuk memastikan alamat kak Ardan.
“kakak kalau belajar kelompok emang ada temannya di gang ini. Kok aku lihat sepi sepi aja gitu. Gak lihat jemuran baju SMA. hehehe”. Aku mulai merubah topik
“hahah ada kok, ada Santi, Beni, dan Ardan. Emang sih gak terlalu dekat rumahnya. Santi dan Beni di gang sebelah, kalau ak satu gang sama Ardan. Rumahnya jarak 2 rumah dari rumah di depanku, ke arah barat”. Jelas kak Ina
“ohh kak Ardan ketua Tim IT itu, wihh enak dong, bisa minta ajarin teknologi gitu”. Jawabku
“hahaha ya begitulah, mau main ke rumahnya? Bukaknya kamu anak osis bidang teknologi juga.” Tanya kak Ina
“iya kak boleh aja sih. Iya Ra, bisa nambah ilmu organisasi”. Celetuk Salma tiba tiba
“ehh”. Aku injak kaki Salma
“iya dek lumayan ilmu gratis, sebentar ya aku ganti baju”. Kak Ina masuk ke kamarnya.
            “gila kamu Ma, aduh, taruh mana ini mukaku”. Kataku malu
“ya taruh situ aja, haha”. Jawab Salma polos
“ayo dek jalan aja, deket kok”. Ajak kak Salma
Beberapa menit kemudian sampai di depan rumahnya kak Ardan. Sangat pas, dan lengkap rasa malu dan deg degan ku. Kak Ardan ada di depan rumah.
“hay Dan, sibuk ya”. Sapa kak Ina, sambil membuka gerbang rumah kak Ardan
“egak kok masuk aja. Tumbenan bawa adek”. Tanyanya ramah
“yaya biar dapet ilmu baru, dia kan osis bidang teknologi”. Kak Ina menunjukku
Haduh, malu berat deh aku. Kami bertiga pun masuk. Di dalam aku pun hanya diam, menjawab sesekali dengan kata iya atau tidak. Sungguh aku mati kutu disitu. Aku hanya mengamati bagaimana kak Ardan berbicara. Dia begitu cool, tegas. Sungguh aku tak menyangka bisa sedekat ini dengannya. Aku juga melihat ke kak Ina, dia juga terlihat antusias, dan sangat akrab dengan kak Arda, begitu juga kak Ardan.
Pukul 1 siang, kami bertiga berpamitan dan kembali ke rumah kak Ina. Saking groginya aku berpamitan, aku sempat tersandung, dan hampir jatuh di depan kak Ardan. Plus plus sudah rasa maluku. Aku juga langsung berpamitan dari rumah kak Ina, karena aku sudah gak kuat nahan nervous ini. Dan sejak saat itu kalau aku lagi online dan begitupun kak Ardan, aku sama sekali gak berani ngechatt kak Ardan dulu. Kak Ardan juga gak pernah ngechat aku.
Beberapa minggu lagi aku akan berpisah dengan kak Ardan. Yaa kak Ardan akan lulus dari sini. Dan sampai sekarang aku belum dapet nomernya. Sungguh cinta yang tragis. Dia selalu memberiku nasehat nasehat yang baik, menjelang kelulusannya. Saat hari pisah kenangnya, aku menjadi panitia bagian sie Acara. Secara tak langsung aku lebih berurusan dengan para wisudawan dan wisudawati. Aku masih kaku ketika bercakap sama kak Ardan, apalagi aku kebagian tugas yang harus berurusan dengan para wisudawan dan wisudawati.. Tak kuat menahan semau itu. Ketika aku free, aku berlari ke kamar mandi, dan meluapkan semua disana. Perpisahan ini begitu cepat, dan semua harus berakhir tragis. Sehari setelah pisah kenang, aku memutuskan untuk memberikan kado itu diam diam ke rumahnya. Dan dalam surat dalam kado itu juga, ku jelaskan semuanya. Aku tak berharap lebih, aku hanya minta kak Ardan tau itu aja. Beberapa hari setelah itu anak anak kelas 3 resmi menjadi alumni SMAN 1 Malang. Dan sejak saat itu aku pastikan kisah cintaku berakhir Sad Ending,
Satu bulan berlalu, aku tak mendegar kabar tentang kak Ardan, aku masih berkomunikasi dengan kak Ina. Cintaku tetap untuk kak Ardan, dan itulah mengapa aku tetap JOMBLO. Hingga suatu hari tib tiba kak Ina mengirim pesan,
Ina_aja                        : hay adekku, lagi ngapain nih?
Tiara Mutiara   : lagi facebookan aja kak, kalau kakak?
Ina_aja            : ini lagi chattingan sama kamu, boleh nannya dek?
kamu suka sama Ardan ya
Tiara Mutiara   : hah? Ngarang deh kak, ga mungkin lah
Ina_aja:           hahaha jangan bohong deh, aku tau lhoo
Tiara Mutiara   : kata siapa kak
Ina_aja:           ada deh, kasih tau dulu, iya apa ndak
Tiara Mutiara   : ndak kok kak
Ina_aja                        :ahh yang bener, aku tau loh dek, dari sikapmu dan dari seseorang

“Jangan jangan Salma. Pasti dia”. Fikirku dalam hati.

Tiara Mutiara: ndak kok kak, kakak yang suka kak Ardan kan? Aku tau dari Salma, maaf
Ina_aja            : hahaha, kalau sudah tau kenapa tanya dek? Aku gak memungkiri itu semua. Aku juga sudah jujur pada Ardan, tapi ya begitulah Ardan hanya menganggapku teman. hehe aku tau tentang kamu dek
Tiara Mutiara   :wah kakak hebat, hehehe. Tau apa kak?
Ina_aja             :untuk apa di pendam dek, aku juga udah tau jawabannya. Cuman pengen ungkapkan saja, biar lega. Ada deh. Oh ya off dulu ya
Tiara Mutiara   : iya kak
Ina_aja                        : {offline}

 Aku masih terus mikirkan kata kata kak Ina. Kira kira siapa yang ngasih tau kak Ina. Aku bertanya pada Salma tetapi Salma tak mengakui bahwa dia yang mengatakan itu ke kak Ina. Aku merasa iri sama kak Ina. Dia begitu yakin dan berani jujur pada kak Arda. Tapi kenapa aku gak. Kak Ina yang cantik, baik dan pinter aja, tak menarik hati kak Ardan, apalagi aku, sangat tidak mungkin. Aku juga sudah tak berhubungan lagi dengan kak Ardan. Dia sudah jarang online. Sedangkan aku hanya tau facebook saja, tak ada yang lain, jadi hanya melalui itu aku berkomunikasi. Esok harinya, tepat pukul 12 malam, aku masih belum bisa tidur. Hari itu berganti hari menjadi Rabu, 12 Desember 2013 tepat aku berumur 17 tahun, tiba tiba,
Bahri Ardan    :Selamat Ulang tahun adekku sayang, semoga tambah baik, pinter dan nurut sama orang tua’
Tiara Mutiara   :makasih kak Ardan, amin’ hah? Kak Ardan, sungguh aku speechlesh, gak bisa ngomong apa apa
Bahri Ardan    :iya dek sama sama. Dek boleh minta sesuatu?
Tiara Mutiara   :minta apa kak?
Bahri Ardan    :aku minta nomer Hp kamu dek, boleh
Tiara Mutiara   :lohh buat apa ya’ sok jual mahal
Bahri Ardan    :kalau gak boleh gak apa apa kok,
Tiara Mutiara   :boleh kok
Bahri Ardan    :nanti aku kasih tau dari sms aja dek
Tiara Mutiara   :iya ini kak 0815********
Bahri Ardan    :makasih ya dek
{offline}

“lah kok off”. Fikirku dengan hati kecwe

<hay adek, aku Ardan>
<eh iya kak, ada apa ya>
< to the point yah. Aku sudah tau semuanya, aku sudah tau dari Salma dan Ina. Aku sudah tau atas semua yang kamu lakuin buat aku. Makasih atas kadonya. Makasih juga atas cara kamu mencari alamat rumahku. Maaf juga aku gak pernah cerita soal coklat itu. Awalnya aku gak tau juga kalau coklat itu dari kamu, kalau gak dari Salma. Dan maaf juga kalau aku sembunyi sembunyi ke kamu>
<jadi, yang ngasih aku bebagai macam hadiah di mejaku. Teus yang kakak maksud minta nomer Hp tapi malu ke adek kelas itu aku?>
<ya begitulah, dek. Kita sama gak tau kalau kita saling suka, jadi kita kayak kucing kucingan>
<aku suka sama kakak? Kata siapa>
<lohh kata Salma [sedih], enggak ta dek>
<haha iya kakak, gitu aja cemebrut. Tapi kakak gak pernah bilang suka. Dulu bilangnya gak tau>
<kali aja.[smile]. Iya dulu sekarang yakin dek, kalau aku suka kamu>
<tapi bukannya kak Ina suka sama kak Ardan ya>
<iya aku juga sudah tau perasaan Ina ke aku, tapi aku gak bisa nerima dia. Karena aku cuman ngganggep dia sebagai sahabat. Dan alasan kedua adalah kamu dek>
<hehehe ohh begitu.. ciee aku jadi alasannya ternyata. Terus kenapa kakak gak pernah mau nyapa aku di sekolah?>
<walaupun aku begitu terkenal, aku juga punya rasa malu dek, kalau sama orang yang aku suka. Kamu juga gak pernah nyapa aku dek>
<haha oh gitu. Lah kalau aku kan hanya adek kelas. Gak punya rasa percaya diri buat nyapa kakak. Sedangkan yang lain penuh rasa PD buat nyapa kakak>
<Haha bisa aja. Tapi maaf kayaknya kita gak bisa satuin hubungan kita saat ini. Aku gak mau kamu kecewa. Mungkin suatu hari nanti aku pasti datang. Dan aku mohon kamu jaga kepercayaanku ke kamu dek walau kita tidak ada ikatan. Pokoknya gak boleh pacaran sampek aku kembali>
<iya kakak, gak apa apa kok, aku tau kondisi pendidikan kakak yang gak memungkinkan. Aku juga mau kakak janji gak akan pacaran selama disana>
<iya adekku sayang. Udah dulu ya, udah malam, cepat tidur, selamat tidur adekku sayang>
<selamat tidur juga kakakku sayang>

Aku masih terus berkomunikasi dengannya walau terkadang sulit, karena jarak antara negara. Antara bahagia atau sedih juga aku tak tau, sekian lama aku menunggu ternyata cinta bertepuk sebelah tangan. Tapi tak bisa dikatakan di tolak mentah mentah. Karena kak Ardan hanya tak bisa menerima karena waktu dan kondisi yang tak mungkinkan. Tiba tiba kak Ardan mengirim sms,
<Oh ya jangan lupa besok dateng ke rumah. Temui mamaku. Nanti kamu pasti tau. Mamaku sudah tau semuanya>
<ada apa sih? Penasaran loh>
<udalah, liat besok. Dah sayang, i love you>
<emmm i love you too>

“ada apa ya?”. Tanyaku dalam hati

Keesokannya aku pergi ke rumah kak Ardan. Tiba disana, mamanya langsung memelukku, dia mengucapkan terimakasih karena sudah mau menerima kak Ardan apa adanya dan meminta maaf karena kondisi pendidikan kak Ardan membuat hubunganku dengannya tak memilki status. Mamanya menceritakan semua tentang kak Ardan, perjalanan hidup kak Ardan. Sungguh di luar dugaan, sangat tragis.dia dikecewakan oleh ayahnya yang meninggalkan keluarga. Dia yang menjadi tulang punggung keluarga. Aku sungguh bangga pernah mengenal kak Ardan dan jatuh cinta padanya. Dia adalah sesosok laki laki idaman semua wanita. Aku juga meminta maaf kalau sudah bersikap seperti penggemar rahasia yang mungkin saja mengganggu kak Ardan, dan mamanya mengerti. Lalu mamanya memberiku sebuah kotak kecil dan kotak besar. Kotak kecil berisi kado untukku. Sedangkan kotak besar berisi semua barang barang yang sebenarnya ingin ia berikan padaku tapi situasi dan kondisi tak memungkinkan, ada juga beberapa surat dan puisi, dan juga flashdisk berisi video. Aku berpamitan dan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah aku segera membuka laptop dan ku buka isi dari flashdisk itu. Flashdisk itu berisi video dirinya tentang semua perasaannya padaku yang tak sempat dia ungkapkan. Dia membuat sebelum keberangkatannya ke Australia. Selain video itu ada berbagai macam video tentangku yang dia ambil diam diam selama ini.
“kak Ardannnnnnnnn”. Teriakku, dan tumpah sudah air mata kebahagianku.


TAMAT

AKU DAN BUKU CINTA TUA



AKU DAN BUKU CINTA TUA

Mungkin sama sekali tak mungkin, benda benda tata surya bisa merasakan sesuatu yang biasa dirasakan oleh manusia,  yaitu “RASA CINTA“. Ya....kita pasti sudah tak asing lagi dengan yang namanya cinta. Ada suatu lirik “Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga”. Semua orang  didunia ini memiliki cinta. Dengan orang tuanya,anaknya,  keluarganya, temannya,dan  kekasihnya.Tapi pernah kalian tau, bahwa tak hanya manusia yang seperti. Benda benda pada tata suryapun merasakan seperti itu.

Pagi hari yang cerah aku membuka jendela kamarku. Ku hirup udara segar pedesaan. Udara yang belum sama sekali terkontaminasi oleh polusi kendaraan. Yaa... aku sedang liburan di desa, tepatnya dirumah nenekku. Lalu, segeraku rapikan tempat tidur, aku keluar dari kamar, lalu pergi ke dapur dan kusapa nenek yang sedang memasak sarapan di dapur.  Lalu aku pergi temui kakek yang sedang memberi makan ayam. Sebuah keluarga yang harmonis. Anak anak, dan cucu cucu mereka sudah mempunyai kehidupan sendiri. Jadi mereka hanya tinggal berdua. Hanya keluargakulah yang tinggal di kota tak jauh dari desa mereka. Jadi jika liburan datang, aku dan keluarga menyempatkan datang ke desa. Tapi untuk liburan kali ini, aku hanya sendiri liburan ke desa. Karena kedua orang tuaku ada tugas yang tak mungkin mereka tinggalkan. Tapi bagiku tak masalah, yang penting aku bisa liburan. Setelah bercengkrama, dan membantu kakek memberi makan ayam, aku segera bergegas pergi ke kamar mengambil handuk, dan berlari ke kamar mandi.
Air yang masih jernih. Airnya pun sangat dingin. Ditambah dengan udara pedesaan yang masih murni dan segar. Jadi tak mandipun mungkin masih segar hehehe. Setelah mandi, ku jemur handuk, dan pergi ke dapur bantu nenek siapkan sarapan. Yaa aku hanya bantu pindahin lauk pauk ke piring piring, dan taruh dimeja. Jujur saja,,, aku tak bisa masak. Jadi hanya itu yang bisa kau lakuin. Tapi paling tidak aku membantu mereka. “Kek, ayo makan, sarapan sudah siap”. Panggilku pada kakek. “Iya sebentar, kakek cuci tangan dulu.” Jawabnya. Keluarga yang sederhana, begitupun dengan makanannya. Tapi bukan makanan yang membuat enak, tapi suasana kebersamaan yang mebuat makanan ini nikmat. Setelah sarapan, aku pergi ke kamar untuk berganti baju. Yaa kakek sudah janji padaku, untuk menemani aku jalan jalan keliling desa.
Dalam perjalanan aku bertemu banyak orang, yang mengenalku dan kakek. Sayangnya aku tak terlalu mengenal mereka. Mungkin mereka tau aku sejak kecil, tetapi aku masih tak mengerti saat itu. Saat asyik aku melihat pemandangan, aku tak melihat jalan dan menabrak seorang laki laki. “Ehhh.. maaf maaf”. Katanya sambil mengulurkan tangannya . “ohh tidak aku yang harus minta maaf, aku terlalu asyik melihat pemandangan dak tidak lihat jalan”. Menerima uluran tangannya, lalu berdiri. “ohhh yaa tidak apa apa. (berpaling ke kakek) ehh kakek, sedang jalan jalan ya” katanya. “iyaa, menemani cucu keliling desa(tersenyum) dia lagi liburan. Oh ya ini cucu kakek namanya Early Talita Hardiningrat. Early ini, anak pak kades namanya Langit Sang Cahyana” jawab kakek. “Nama yang bagus, Early” berjabat tangan dengan langit. “namamu juga bagus, langit” berjabat tangan dengan Early. “senang bertemu dengamu” kata Early. “Semoga menikmati liburanmu. Oh ya saya harus pergi. Ada urusan yang harus saya selesaikan. permisi” tersenyum pada Early, lalu pergi.
“Emmm kek boleh nanya.” Tanyaku tiba tiba. “Boleh, tanya apa?” jawab kakek sambil melihat pemandangan. “Langit masih sekolah?” Tanyaku. “Masih, dia 1 tahun lebih tua dari  kamu, kelas XII. Memangnya kenapa?” tanya balik kakek. “tidak Cuma tanya aja. Kok dia terlihat dewasa sekali” tersenyum. “iya iya lah. Orang tuanya mendidiknya dengan baik dari kecil. Kakek tau itu” jawab kakek. Aku dan kakek melanjutkan perjalanan kami. Matahari sudah hampir tinggi. Untunya aku dan kakek sudah sampai di rumah. Didepan rumah kami cuci kaki dan tangan. Tercium bau sedap masakan nenek, yaitu sambal lele. Perutku mulai berbunyi. Cacing diperut sudah mulai festival musik hehehe. Aku segera berlari mendahului kakek masuk ke rumah. Lalu kami menikamti makan siang bersama. Setelah itu aku pergi ke kamar, dan merebahkan tubuhku ke tempat tidur. Terbesit dalam pikiranku tentang Langit. Mengingat nama Langit aku jadi ingat teman temanku di Bandung. Aku meyukai salah satu teman juga sahabatku. Namanya juga Langit. Aku, Langit, Marsya, Binar, Bintang dan Aulia adalah sahabat. Kami begitu dekat saat kita masih duduk kelas X. Tapi begitu kami mengijak di kelas XI kami sedikit menjauh. Lebih tepatnya aku sedikit jauh. Mungkin karena mereka memiliki kelebihan atau kemampuan lebih dari aku. Yaa kami adalah pengurus osis di sekolah kami. Kini kami kelas XI, kami jadi senior bagi junior kami kelas X. Mungkin semakin hari mereka semakin berkembang cepat. Sedangkan aku lebih lambat mungkin berkembang mengikuti semua. Jadi mereka seperti sedikit menjauh. Entah memang menjauh atau hanya ada sesuatu. Berbicara tentang “SUKA”, aku liburan ke sini, juga ingin melupakan Langit, orang yang aku sukai. Ak rela liburan sendiri tanpa orang tua hanya ingin melupakan Langit. Tapi ternyata aku disini bertemu anak bernama Langit. Semakin aku tak bisa melupakan Langit. Aku terus berpikir hingga tertidur. Dan saat aku bangun, jam sudah menunjukkan pukul 16.30. Segara aku bangun dan berlari ke kamar mandi, lalu melaksanakan sholat Ashar. Lalu aku ikut bergabung dengan kakek nenek yang asyik menonton TV.
Hingga tak sadar jam menunjukkan pukul 18.00. aku pergi melaksanakan sholah maghrib, lalu membantu nenek menyiapakan makan malam. Setelah isya, nenek dan kakek istirahat di kamar. Tapi aku masih belum mengantuk. Akhirnya aku lebih memilih untuk membaca buku di kamar. Keesokkan harinya, seperti yang biasa aku lakukan mandi, membantu nenek, lalu makan dan membantu kakek. Tapi untuk kali ini, aku jalan jalan tanpa ditemani kakek. Ditengah perjalanan, aku bertemu dengan Langit. Akhirnya dia menemaniku jalan jalan. Tak terasa sudah 1 minggu aku liburan di desa. Dan sudah 1 minggu pula aku dan Langit saling mengenal dan berteman. Karena urusan orang tua sudah selesai. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang, dan menikmati sisa liburanku di Bandung. Saat aku berpamitan kepada nenek dan kakek, tiba tiba Langit datang untuk mengucapkan selamat tinggal padaku. Dan dia juga memberikan sesuatu padaku, “Ini hadiah pertemanan sekaligus hadiah perpisahan dariku. Semoga kamu menyukainya”. Aku menerimanya,“Terima kasih. Dan maaf aku tak bisa memberikan apa apa untukmu(tersenyum)”. “tak apa, oh ya aku harus pergi. Selamat tinggal dan sampai jumpa” katanya dan pergi, sambil malambaikan tangan. Ku balas dengan lambaian tangan dan senyuman. Dalam perjalanan pulang, aku terus memperhatikan bungkusan itu, aku berpikir itu adalah sebuah buku dan aku berniat membukanya. Tetapi aku tahan hingga nanti dirumah.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar dan membuka bungkusan itu. Ternyata memang benar itu adalah sebuah buku. Sebuah buku cerita berjudul “BUMI CINTAKU, LANGIT SAYANGKU”.  Dan terdapat sepucuk surat diatasnya, yang isinya:
To Early
            Hai Early, saat kamu baca surat ini, mungkin kita sudah tak bertemu lagi. Kamu pulang ke Bandung, dan aku pergi Australia untuk melanjutkan sekolah. Pertemuan yang singkat di antara kita. Tapi aku sudah seperti mengenalmu lama. Sudah mulai memahamimu. Dan saat aku sudah mulai menyukaimu, kamu harus pulang ke Bandung. Ohh yaa,, buku yang aku kasih ke kamu di baca yaa.. cerita lumayan asik lhoo. Aku sengaja ngasih hadiah kamu buku itu, karena aku pengen kamu tau arti sesungguhnya dari “3 kata,  8 huruf dan 1 makna”  kamu pasti tau. Walau judul dan isinya yang aku sebutkan tak sama, tak inti dari ceritanya yaa.. 2 hal itu. Semoga kamu senang menerimanya. Sekian surat dari aku. Jika ada waktu aku akan memberimu kabar,,,, bye... J

Nb: 081515021xxx (itu nomer hpku jika ada waktu hubungi aku)
                                                                                                            From Langit Sang C


<ohh kak Langit.. maafkan aku tak bisa memberimu apapun. Makasih kak Langit> kataku dalam hati. Segera aku letakkan buku itu diatas tempat tidur, dan aku bergegas turun untuk makan siang. Setelah aku makan siang, aku pergi ke kamar, dan berniat membaca buku saat Hpku berdering. Kulihat siapa yang mengirimiku sms. Tak ku sangka ternyata Langit sahabatku. Dia memberitahukan bahwa untuk seluruh pengurus osis, untuk datang ke sekolah pukul 09.00 untuk rapat. <ku kira ada apa> dalam hatiku. Ku balas :”iya, jika tak ada acara”. Karena  aku ingat papa bilang abhwa besok mungkin akan ada pertemuan keluarga besok pagi. Setelah membalas sms dari Langit, aku mulai mebaca buku dari kak Langit. Buku setebal 321 halaman tersebut bukan membuat malas mebaca, tetapi malah membuatku semangat, karena cover buku yang bagus, judul yang menarik dan prolog cerita yang asyik. Ditambah buku itu pemberian dari kak Langit. Membuat ingin sekali membaca. Halaman demi halaman kubaca. Tak terasa jam menunjukkan pukul 17.15 segera aku berlari ke kamar mandi, lalu sholat ashar. Aku tetap berada di tempat sambil menunggu adzan maghrib. Sambil menunggu, aku merenung. Mengingat semua kenangan masa masa aku di kelas X bersama sahabat sahabatku. Adzan magrib telah berkumandang. Aku bergegas mengambil air wudhu lagi, takut jikalau air wudhuku sholat ashar tadi sudah batal. Aku melaksanakan sholat magrib. Setelah selesai aku menyempatkan membaca buku tersebut beberapa halaman, lalu turun ke meja makan untuk makan malam. Setelah makan, aku tak langsung ke kamar. Karena aku, papa dan mama akan fiting baju untuk acara pertemuan keluarga besok. Aku pergi ke ruang fiting lebih dulu. Yaaa dirumah aku ditempat untuk sholat, ada tempat untuk belajar, dan ada tempat untuk menaruh semua baju baju kami. Dan si situlah tempat kami fiting baju. Setelah kami masing masing sudah mendapatkan baju yang pas dan mirip satu sama lain, ake segera naik ke atas untuk membaca buku di kamar. Jika sudah mulai malam, aku tak suka membaca buku di bawah. Aku lebih suka membaca buku di kamar. Aku melanjutkan membaca. Hingga aku sampai pada bagian dimana Bumi mulai merasa minder, saat rasa cintanya pada Langit. Yaa memang dalam buku itu, seluruh pemerannya adalah benda benda mati dan benda tata surya. Saat aku membaca bagian itu, aku teringat akan Langit sahabatku, yang kini sedang aku sukai. Aku merasa seperti dalam posisi Bumi yang ada dalam cerita. Sama sekali tak PD saat aku menyukai Langit. Sama sama bernama Langit. Aku mulai merenung. Dan tanpa sadar air mata menetes membasahi buku itu. Segera aku usap air mataku, dan ku lanjutkan membaca. Semakin aku terus melajutkan membaca, semakin sering airmataku keluar. Dan semakin menyatu antara aku dan buku itu. Jam menunujukkan pukul 22.00. Tapi aku tetap asyik membaca, hingga aku tertidur dan buku itu terbuka diatas dadaku. Saat aku bangun, jendela kamar sudah terbuka, dan baju pestaku sudah tergantung rapi. Aku segera mandi, lalu turun dengan masih memakai baju tidur. Dan aku mamastikan pada orang tuaku, apakah acara pertemuan itu akan diadakan, “Pa, apa acara keluarga ini jadi dilaksanakan? ” tanyaku. “Ya jadilah. Kenapa kamu tanya seperti itu?” papa tanya balik padaku. “Tidak. Aku cuman memastikan. Karena hari ini aku juga ada rapat di sekolah ” jawabku. “ohh lebih baik kamu izin tak ikut. Karena acara ini penting. Apa perlu papa yang mengijinkan?” tanya papa. “tak perlu pa, aku akan segera hubungi mereka, bahwa aku tak bisa hadir” jawabku dengan nada sedikit kecewa. Aku segera kembali ke kamar, mengambil Hp dan mengirim pesan ke pada Langit, mengabari bahwa aku tak bisa ikut karena ada acara keluarga. Aku sedikit kecewa, karena ini adalah kesempatanku untuk bertemu Langit setelah 1 minggu liburan. Karena liburan masih lama. Beberapa menit kemudian Hpku berdering tanda ada sms. Aku meletakkan kutexku di meja lalu mangambil hp. Seperti kebiasaanku. Setiap akan ada acara, aku selalu ingin tampil sempurna. Ku lihat Langit membalas smsku. Dia membalas: ”okkeh, tak apa, Have fun your holiday JL”. Setelah aku lihat emoction itu, aku jadi tak mengerti. Kenapa setelah tersenyum dia menangis. Saat aku ingin membalas smsnya, mama masuk ke kamar, dan mengingatkanku untuk segera bersiap. Ku lirik Hpku, lalu aku lanjutkan merias diri. Menikmati acara hingga malam, hingga aku lupa bahwa aku belum membalas sms dari Langit. Karena aku kecape’an, setelah berganti baju, aku langsung tidur tanpa membaca buku itu, dan tak membalas sms dari Langit. Keesokan harinya saat aku bangun, hpku berdiring. Dengan mata yang masih ngatuk, aku lihat hapeku. Ternyata Bintang menelponku. Karena mataku masih ngantuk, aku salah memencet tombol reject. Lalu aku taruh hpku diatas meja, aku begegas ke kamar mandi hanya sekadar cuci muka, lalu kembali mengambil hp dan mengirim sms pada Bintang: “maaf tadi kepencet. Ada apa?”. Lalu aku kembali ke kamar mandi untuk mandi. Dari kamar mandi aku mendengar mama memanggilku untuk segera turun, sarapan, “Early... ayo ceapat turun, papa menunggu kamu untuk sarapan”. “iyaa maa sebentar. Masih mandi” kujawab dengan suara keras dari dalam kamar mandi. Setelah mandi aku, aku segera turun ke bawah. Saat aku akan keluar kamar, hpku berdering tanda sms. Segera ku ambil dari meja, dan kubaca sambil turun tangga. Ternyata sms dari bintang: “hari ini aku dan teman teman akan ke rumah, mungkin nanti siang”. Ku balas: “iya.. ada apa?”. Lalu aku taruh hp di dekat piringku, dan aku duduk. Tepat setelah suapan terakhir, hpku berdering, Bintang membalas smsku: “ada yang akan dibicarakan”. Ku balas: “okkeh”. Lalu ku taruh hpku di dekat telpon rumah. Dan aku membantu mama mebereskan meja makan. Lalu ku ambil hpku, dan berlari ke kamar, untuk melanjutkan membaca. Saat aku sampai dibagian yang menyadihkan. Aku menangis.Tak terasa tangisku membuatku mengantuk, aku ketiduran. Aku dibangunkan mama, karena teman temanku datang. Segera aku berlari ke kamar mandi untuk cuci muka. Aku turun menemui mereka. “heyy. duduk”. Sapaku dengan sedikit mengantuk. “hey. Bangun tidur yaa..” tanya Binar. “ehh habis nangis deh” timpal Aulia. “tidak kok, aku cuman baru bangun tidur.” Jawabku kaget. “ahh tapi matamu tak bisa bohong” balas Binar. Aku hanya tersenyum, dan ikut duduk bersama mereka. “ada apa?” langsung ku mulai percakapan. “kami ke sini mau mebicarakan tentang........”. aku dan mereka mulai berbincang bincang dengan mereka membicarakan tentang masalah kami. Setelah dirasa cukup, mereka berpamitan pulang. “oke, kami pulang dulu ya” kata Langit. Aku terdiam sejenak. “ohh yayaya”(tersenyum) jawabku dengan sedikit kaget. “Kenapa?”(heran) tanya Marsya. “takk”(tersenyum) jawabku. Mereka pulang dan aku segera kembali ke kamar untuk membaca buku cerita itu. aku menikmati cerita itu. Hingga aku sampai pada bagian saat bumi dan Langit bertemu dirumah bumi. Setelah ku pikir pikir. Cerita ini sedikit mirip dengan kebiasaan dan kejadian kejadian yang pernah aku alami. Mulai dari bersahabat, lalu bumi jatuh cinta pada langit. Awan pun seperti menyukai langit. Bumi merasa minder. Lalu mereka sedikit seperti menjauh dari bumi. Tapi mereka tak tau dan tak sadar kalau bumi menyukai langit, dan sedikit minder dengan temannya. Mereka masih saling bertemu seperti biasa. Tapi bumi lebih diam. Mirip sekali dengan kejadianku. Pikiranku melayang jauhh. Akhirnya segera ku ambil hp, ku buka laciku. Ku ambil surat dari Kak Langit. Aku mengirimkan sms padanya, hanya untuk menanyakan kabar, dan memberitahu  nomerku. Ternyata baru beberapa menit, dia membalas nomerku. Akhirnya selain membaca cerita, aku juga smsan dengan Kak Langit. Ditengah tengah sms, aku memberanikan diri untuk bertanya tentang buku itu.
“kak,, kakak dapet buku ini dari mana?” tanyaku.
“ohh. Aku dapat dari kakekku. Dia memberikanku saat aku sedang patah hati J kenapa?” jawabnya
“berarti kakak memberikan kepadaku karena aku patah hati L ” tanyaku lagi
“ya tidak... J aku memberikannya, karena aku pikir, kamu akan suka. Karena cerita menarik ” jawabnya
“ohh.. ya ni kak,, aku lagi baca buku ini,, udah sampe dihalaman yang lumayan jauh. Dan kupikir pikir, kok cerita ini mulai dari awal hingga kesini mirip sekali dengan ceritaku. Aku bingung” kataku
“lohh benarkah... padahal buku itu juga mirip sama ceritaku sejak awal. Dan sedangkan cerita cinta kita berbeda. Kok bisa” tanyanya
“aku juga tidak tau. Apa ceritanya bisa berubah sendiri?” tanyaku balik
“coba ceritakan sedikit dalam buku itu” pintanya
“oke,, sebentar aku telpon kakak saja” jawabku

            Akhirnya aku ceritakan sedikit padanya melalui telepon. Dan ternyata dalam buku yang berjudul sama, ternyata isi dari cerita juga berbeda. Yang membaca berbeda isinya berbeda. Berbeda cerita kehidupan, berbeda pula isi dari buku itu. aku semakin heran pada buku itu. cerita dalam buku itu bisa berubah. Tapi judul yang sama. Dan anehnya walau cerita berbeda dalam 1 buku, dan judulnya sama, tapi antara judul dengan isinya tetap satu atau masih berkesinambungan. Seperti tak ada perubahan. Aku tetap melanjutka membaca, dengan dihatui rasa heran. Hari hariku selama liburan, jika ada waktu luang hanya buat untuk membaca cerita itu. Tepat hari terakhir aku liburan, aku sampai pada lembar ke-5 dari belakang. <akhirnya mau selesai juga> pikirku. Cerita itu semakin mendekati dengan aku dan hati. Mirip seperti apa yang aku rasakan pada Langit, dalam cerita itu juga bumi pada langit. Dan terhalang oleh awan, matahari, bulan dan bintang. Begitu dengan aku terhalang kawan kawanku J. Akhirnya aku selesai membaca cerita itu hingga akhir. Cerita yang membuat aku sedikit jengkel dan terharu itu bisa membuatku menitihkan air mata. Bumi sama sekali tak berani mengungkapkan perasaanya pada Langit. Bumi selalu mebuat langit bahagia. Tanpa langit tau bahwa bumi mencintainya. Bumi lebih memilih pertemanan dari pada cinta. Dia tak ingin persahabatanya rusak dengan langit, awan, bulan bintang, matahari hanya karena rasa sukanya pada langit. Tapi bumi tetap setia mencintainya LLL . Dan itu sangat mirip denganku. Aku juga tak berani katakan pada langit. Aku tak ingin bersahabatan kami rusak karena rasa sukaku pada langit. Benar kata kak Langit, cerita ini mengisahkan arti sebenarnya dari “3 kata, 8 huruf, dan 1 makna”. Dan bagaimana tentang buku yang ceritanya berganti. Aku dan Kak Langit punya kesimpulan yang sama. Bahwa suatu masalah, masalah cinta ataupun yang lain, masalah itu akan ada jalan keluarnya sendiri, dan memiliki rute untuk keluar dari masalah itu sendiri berbeda satu sama lain, sesuai dengan bagaimana kita menanggapi dan menjalani. Jadi buku itu juga akan menyesuaikan isinya dengan siapa yang membacanya. Alhasil, aku janji akan aku simpan buku itu baik baik. Jika suatu saat ada cerita baru dalam hidupku, mungkin buku itu bisa jadi teman curhatku J

TAMAT