ANTARA CINTA DAN SAHABAT
Pagi itu Silvia datang sekolah dengan ceria, entah apa yang membuatnya seperti itu. Tiba di kelas, dia langsung menghampiri Cika teman dekatnya. Tiba-tiba datang Andre mengobrak-abrik tempat pensil Silvia. Spontan Silvia marah dan mendorong andre hingga jatuh. Andre adalah cowok yang cool di kelasnya Silvia. Tapi ya gitu dech jailnya minta ampun. Banyak anak ingin bisa dekat dengannya, tapi susah. Secara dia sok banget. Mungkin Silvia dan Cika adalah dua cewek yang beruntung bisa berteman dengan Andre. Bel masuk pun berbunyi. Anak kelas XII-IPA termasuk kelas teramai. Jika tidak ada gurunya, kelas rasanya seperti pasar ayam. Belajar adalah rutinitas dirumah bagi anak-anak. Tapi kalau mengosip adalah rutinitas di kelas. Tiba-tiba bel istirahat berbunyi, “Wih, Cik. Kita jam kosong sampi istirahat ya. Jarang-jarang lho”. Kata Silvia menggandeng Cika ke kantin. Setelah Ke kantin Cika dan Silvia balik lagi ke kelas. Tapi di kelas ramai ngomongin tentang Vita. Katanya Vita suka sama Andre. Dug.......dug..... Jantung Silvia langsung berdetak kencang. “Masak sich Vita suka sama Andre. Setahuku Vita sudah punya pacar. Namanya Aldi”. Kata Cika kaget. “Sebenarnya aku juga tidak percaya. Tapi dia sering dekat-dekat gitu sama Andre. Bahasa gaulnya “CAPER”. Kata Tika. Bel masuk berbunyi Silvia mengikuti pelajaran tanpa konsentrasi. Pikirannya hanya ke Andre.
Sepulang dari sekolah, biasanya dia main sebentar ke rumah Cika. Tapi untuk hari ini dia langsung pulang. Sesampainya di rumah, dia langsung membanting tubuhnya ke kasur. Pikirannya tertuju pada kata-kata Tika {Vita suka sama Andre}. Di lubuk hatinya, dia mengakui kalau dia suka sama Andre. Tapi dia tidak tahu, apakah Andre juga menyukainya. Seharian Silvia hanya berdiam diri di dalam kamar. Sms dari Cika dan Andre tak di balaz. Ketukan pintu pun tak dia hiraukan. Tapi dia sama sekali tidak sakit. Dia masuk sekolah seperti biasa. “Sil, kamu kenapa smsku tidak dibalas, telephoneku tidak diangkat”. Tanya Andre bingung. “tidak apa-apa kok. Mungkin aku tidak dengar”. Kata Silvia lemas. Tidak mungkin kalau Silvia jujur sama Andre, bahwa dia kepikiran Andre. “Hey semua. Oh ya, kemarin ada diskon buku kesukaanmu di toko buku. Sayang kamu tidak angkat telphoneku”. Kata Cika semangat. Cika dan Silvia memang sudah dianggap “KUTU BUKU” Oleh anak-anak. “ Sorry ya Cik, Aku kemarin ketiduramn Jadi tidak dengar”. Kata Silvia sedih. Setelah itu Andre pergi karena dia mau ke toilet. “Eh Sil, kamu jujur saja sama aku. Kalau kamu suka sama Andre”. Kata Cika sambil duduk di sebelah Silvia. “Eh kamu ngomong apa sih. Tidak mungkin aku suka sama Andre”.kata Silvia kaget. “Halah, tidak usah bohong. Aku bisa liat dari mata kamu. Dan kemaren saat kamu dengar bahwa Vita suka sama andre kamu langsung diam”. Kata Cika langsung pergi meninggalkan Silvia.
Memang benar apa yang dikatakan Cika. Tapi Silvia Belum bisa mengakuinya. Dari balik pintu kelas, Vita mendengar semua berbincangan Silvia dan Cika. Muka Vita langsung merah padam. Dia merasa bahwa Silvia akan menghalangi rencananya untuk mendapatkan Andre. Dia mencari cara bagaimana caranya agar image Silvia jelek dimata Andre.
Dua hari setalah kejadian itu Vita meminta Silvia untuk menerimanya sebagai teman. “Sil, e......... begini, aku mau jadi teman kamu. Boleh tidak?”. Tanya Vita pura-pura memelas. Silvia kaget, “lo ya boleh boleh saja. Kenapa tidak boleh”. “Makasih ya Silvia”. Kata Silvia memeluk Silvia.
“Tidak salah kamu menerima dia jadi temen kamu”. Tanya Cika. “Apa salahnya. Aku kan tidak pernah pilih-pilih teman”. Kata Silvia. Bukan gitu, Tapi dia kan selalu membencimu. Tapi kenapa dia sekarang dia mau berteman sama kamu. Anehkan”. Jelas Cika. “iya sih aku juga merasa aneh, tapi kita tidak boleh negative thinking dulu. Sudahlah jangan dipikirkan”. Kata Silvia.
Sempat terbesit di hati Silvia, tentang sikap vita yang tibs-tibs ingin menjsdi temannya. Padahal dari dulu Vita sama sekali tidak suka dengan Silvia. Dia berusaha untuk tidak berpikir yang aneh- aneh. Tapi sama sekali tidak berhasil. Dia tidak konsen dalam mengikuti pelajaran.
“Hey, ngelamun saja. Mikirin apa sich?”. Tanya Cika. “Tidak, aku tidak ngelamun apa-apa. Cuma mungkin aku tidak enak badan saja. Sudahlah, ke kantin yuk”. Ajak Silvia. “Tumben kamu yang ngajak. Biasanya kamu yang suruh akau traktir kamu”. Kta Cika.
Silvia hanya diam dan senyum. Tiba-tiba dia menabrak seseorang. Ternyata dia menabrak Andre. Yang paling mengagetkan, Andre bergandengan sama Vita. Spontan Silvia lari meninggalkan mereka. Cika yang mengerti maksudnya langsung menyusul Silvia diikuti oleh Andre. Sayangnya Andre tidak mengerti. Dia hanya ikut mengejar silvia.
“Tuhkan, apa aku bilang. Vita hanya memanfaatkan kamu saja”. Kata Cika yang sudah capek setiap hari mengingatkan Silvia. “Tidak, aku sama sekali tidak menyalahkan vita. Aku terlalu pede. Belum tentu juga Andre suka sama aku”. Kata silvia dengan nangis tersedu-sedu.
Tiba-tiba Andre datang, “kamu kenapa Sil? Kamu marah sama aku? Apa gara-gara Vita tadi?”. Tanya Andre. “Tidak, aku tidak marah sama kamu. Aku......”. Kata-kata Silvia terputus karena Vita datang. “E....eh Silvia, maaf tadi aku tidak bermaksud apa-apa. Tadi aku jatuh, terus ditolongi sama Andre”. Jelas Vita. Bel masuk berbunyi. Silvia mengikuti pelajaran dengan lancar. Bel pulang berdering. Dalam perjalanan pulang Silvia melihat seorang cewek sedang berdiri bersama seorang cowok. Cewek itu memakai pakaian seksi. Silvia mendekat sedikit. Dan Silvia kaget karena Cewek itu adalah Vita. Silvia langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Sesampainya dirumah Silvia teringat kejadian itu. Ternyata vita masih pacaran dengan Aldi. Tapi kenapa dia berusaha mendapatkan Andre. Dan sekarang Vita malah menjadi temannya. Hari ini Silvia ada kerja kelompok di rumahnya Cika. Sesampainya di sana, dia disambut oleh pembantunya Cika. Di ruang tamu rumah Cika, sudah siap buku-buku. Dari dalam Cika berteriak, “Belajar duluan saja. Itu ada buku-buku”. Ketika Silvia membuka buku IPA pada halaman 37, ada selembar kertas. Diatas kertas itu ada beberapa tulisan. Silvia mencoba membacanya. Isinya adalah curahan isi hati Cika. Ketika dia membaca paragraf yang terakhir Silvia kaget. Ternyata dia juga suka sama Andre. Tapi dia menahannya karena dia tidak mau menyakiti Silvia.
Ketika Cika keluar, Silvia segera menutup buku IPA itu. “Hai Sil, sudah lama nunggunya? Maaf tadi masih mandi”. Sapa Cika. Belajar pun dimulai. Tak lama kemudian buku Cika terkena darah yang keluar dari hidung Cika. “Astagfirullahal adzim, Cika kamu kenapa? Bik....tolong bik....”. Kata Silvia shock. Akgirnya cika dibawa ke rumah sakit. Setelah diperiksa dokter, dokter bilang bahwa Cika positive mengidap GAGAL GINJAL. Silvia bingung apa yang harus dia lakukan.
Disekolah dia hanya melamun. Tiba-tiba dari belakang, pundaknya ditepuk oleh Andre, “Kamu kenapa Sil?Ngelamun aja”. “Tidak, tidak apa-apa. Oh ya aku mau nanya, apakah kamu suka sama Vita?”. Tanya Silvia serius. “ Hah, suka sama Vita. Aneh-aneh aja kamu. Ya tidaklah. Diakan sudah punya pacar”. Jelas Andre. “Loh, tapi Vita suka sama kamu. Terus Vita sudah tau kalau kamu tau bahwa dia sudah punya pacar”. Tanya Silvia. “Ehmmm belum. Emang kenapa?”. Tanya balik Andre. “Ada sesuatu yang mau aku katakan, sebenarnya aku suka sama kamu”. Kata Silvia gugup. “E......bukan aku tidak suka sama kamu. Dan dari dulu aku Cuma menganggap kamu sahabat. Lagian aku sudah suka sama cewek lain”. Jelas Andre sedih. “Kalau boleh tau siapa cewek itu?”. Tanya Silvia. “Cika. Maaf sebelumnya kalau aku baru bilang sekarang”. Kata Andre.
“oh....tidak apa-apa. Lagian Cika juga suka sama kamu. Tapi sebelum itu kamu harus buktikan dulu bahwa kamu bener-bener suka sama Cika. Sekarang kamu harus bisa membongkar masalah Cika. Masalah ini memang tidak banyak yang tau. Dia dituduh menggelapkan uang osis”. Kata Silvia. “Apa Cika dituduh menggelapkan uang”. Kata Andre kaget. “Iya sekarang bantu aka untuk menemukan orang yang sebenarnya mencuri uang itu”. Kata Silvia.
Berhari-hari Silvia dan Andre mencari informasi tentang masalah ini. Suatu hati Silvia memergoki Vita bertemu dengan Aldi dan Vita memberi Aldi uang. Akhirnya Silvia merekam kejadian itu. Besoknya Silvia menunjukkan video itu ke Andre. “Apa kita bisa jadika Vita orang yang kita selidiki”. Tanya Silvia. “Mungkin bisa kita jadikan dia sasaran penyelidikan. Besok kitamulai penyelidikan”. Jelas Andre.
Ternyata dugaan Silvia betul. Bahwa Vita yang telah mencuri uang itu. Karena Silvia saat itu memergoki Vita mengendap-endap masuk ke ruang osis. Silvia segera menelpon Andre. Andre bilang bahwa dia sudah memasang cctv di ruang osis. Perlahan-lahan Silvia menutup pintu dan mengucinya dari luar. Saat itu kepala sekolah sedang lewat situ. Dan dia memergoki Silvia, “Silvia apa yang kamu lakukan disini?”. Tanya kepala sekolah. “Gini pak, di dalam sini ada anak yang sedang mengendap-endap masuk. Saya yakin dialah yang mencuri uang itu. Sebentar pak, saya akan buka pintunya”. Kata Silvia. Setelah Silvia membuka pintu, ternyata Vit5a sedang mengobrak-abrik isi lemari. “Vita, sedang apa kamu disini?”. Tanya kepala sekolah. “Ngaku aja kamu Vit, kalau kamu yang mencuri uang itu”. Bentak Silvia. “Jangan asal nuduh ya. Pak saya disini hanya mencari dokumen-dokumen”. Kata Vita gugup. “Tapi kenapa harus mengendap-endap?”. Tanya kepala sekolah. Tiba-tiba Andre datang, “Bener pak, dia yang sudah mencuri uang osis. Ini buktinya”. Jelas Andre dengan menyerahkan kamera cctv ke kepala sekolah. Setelah Kepala sekolah melihat video itu kepala sekolah langsung menggeledah Vita. “ keluarkan semua yang ada dikantong baju kamu Vita. Silvia geledah dia”. Perintah kepala sekolah. “Saya menemukan uang Rp 500.000 pak”. Kata Silvia. “ Saya kecewa atas perbuatan kamu Vita. Mulai hari ini saya keluarkan kamu dari sekolah ini. Buat malu saja”. Kata kepala sekolah meninggalkan ruang osis.
“Rasain kamu Vit. Makanya jangan coba-coba berbuat jahat sama Cika. Oh ya Andre lebih baik kita ke rumah sakit sekarang. Cika masuk rumah sakit”. Jelas Silvia. “Kenapa dia bisa masuk rumah sakit? Dia sakit apa?”. Tanya Andre. “Dia sakit....GAGAL GINJAL”. Jawab Silvia. “Apa....GAGAL GINJAL. Ayo kita segera kesana”. Ajak Andre.
Sesampainya di rumah sakit Andre dan Silvia langsung menuju ke kamar di mana Cika dirawat. “Kamu kenapa? Kenapa kamu tidak bilang sama aku?”. Tanya Andre sedih. “Ndre, dia harus segera mendapatkan donor ginjal, tapi hanya sebelah”. Kata Silvia. “Aku yang akan mendonorkan ginjalku. Sekarang antarkan aku periksa dulu”, Ajak Andre. Ternyata ginjal Andre tidak cocok. Mereka berdua bingung. Karena Cika harus secepatnya mendapatkan donor ginjal. Akhirnya Silvia mengajukan diri untuk mendonorkan ginjalnya. Setelah diperiksa ternyata cocok. Lalu segera dilakukan operasai cangkok Ginjal. Alhamdulillah operasi berhasil.
Hidup Silvia tetap bahagia meskipun hanya dengan 1 ginjal. Cika sekarang sudah bisa menjalani hidup seperti biasa, dengan 2 ginjal yang sehat. 1 ginjalnya, 1 lagi ginjal sahabatnya yaitu silvia. Kini dia berhutang nyawa pada Silvia. Dia berjanji takkan sakiti Silvia. Dia juga berterima kasih kepada silvia. Cika percaya bahwa Silvia adalah sahabat sejatinya. Silvia pun mulai bisa mengikhlaskan Andre untuk Cika. Karena sahabat lebih utama dari pada pacar.,,,,