Mungkin sama sekali tak mungkin, benda
benda tata surya bisa merasakan sesuatu yang biasa dirasakan oleh manusia, yaitu “RASA CINTA“. Ya....kita pasti sudah
tak asing lagi dengan yang namanya cinta. Ada suatu lirik “Hidup tanpa cinta,
bagai taman tak berbunga”. Semua orang
didunia ini memiliki cinta. Dengan orang tuanya,anaknya, keluarganya, temannya,dan kekasihnya.Tapi pernah kalian tau, bahwa tak
hanya manusia yang seperti. Benda benda pada tata suryapun merasakan seperti
itu.
Pagi hari yang cerah aku membuka jendela
kamarku. Ku hirup udara segar pedesaan. Udara yang belum sama sekali
terkontaminasi oleh polusi kendaraan. Yaa... aku sedang liburan di desa,
tepatnya dirumah nenekku. Lalu, segeraku rapikan tempat tidur, aku keluar dari
kamar, lalu pergi ke dapur dan kusapa nenek yang sedang memasak sarapan di
dapur. Lalu aku pergi temui kakek yang
sedang memberi makan ayam. Sebuah keluarga yang harmonis. Anak anak, dan cucu
cucu mereka sudah mempunyai kehidupan sendiri. Jadi mereka hanya tinggal
berdua. Hanya keluargakulah yang tinggal di kota tak jauh dari desa mereka.
Jadi jika liburan datang, aku dan keluarga menyempatkan datang ke desa. Tapi
untuk liburan kali ini, aku hanya sendiri liburan ke desa. Karena kedua orang
tuaku ada tugas yang tak mungkin mereka tinggalkan. Tapi bagiku tak masalah,
yang penting aku bisa liburan. Setelah bercengkrama, dan membantu kakek memberi
makan ayam, aku segera bergegas pergi ke kamar mengambil handuk, dan berlari ke
kamar mandi.
Air yang masih jernih. Airnya pun sangat
dingin. Ditambah dengan udara pedesaan yang masih murni dan segar. Jadi tak
mandipun mungkin masih segar hehehe. Setelah mandi, ku jemur handuk, dan pergi
ke dapur bantu nenek siapkan sarapan. Yaa aku hanya bantu pindahin lauk pauk ke
piring piring, dan taruh dimeja. Jujur saja,,, aku tak bisa masak. Jadi hanya
itu yang bisa kau lakuin. Tapi paling tidak aku membantu mereka. “Kek, ayo
makan, sarapan sudah siap”. Panggilku pada kakek. “Iya sebentar, kakek cuci
tangan dulu.” Jawabnya. Keluarga yang sederhana, begitupun dengan makanannya.
Tapi bukan makanan yang membuat enak, tapi suasana kebersamaan yang mebuat
makanan ini nikmat. Setelah sarapan, aku pergi ke kamar untuk berganti baju.
Yaa kakek sudah janji padaku, untuk menemani aku jalan jalan keliling desa.
Dalam perjalanan aku bertemu banyak
orang, yang mengenalku dan kakek. Sayangnya aku tak terlalu mengenal mereka.
Mungkin mereka tau aku sejak kecil, tetapi aku masih tak mengerti saat itu.
Saat asyik aku melihat pemandangan, aku tak melihat jalan dan menabrak seorang
laki laki. “Ehhh.. maaf maaf”. Katanya sambil mengulurkan tangannya . “ohh
tidak aku yang harus minta maaf, aku terlalu asyik melihat pemandangan dak tidak
lihat jalan”. Menerima uluran tangannya, lalu berdiri. “ohhh yaa tidak apa apa.
(berpaling ke kakek) ehh kakek, sedang jalan jalan ya” katanya. “iyaa, menemani
cucu keliling desa(tersenyum) dia lagi liburan. Oh ya ini cucu kakek namanya
Early Talita Hardiningrat. Early ini, anak pak kades namanya Langit Sang
Cahyana” jawab kakek. “Nama yang bagus, Early” berjabat tangan dengan langit.
“namamu juga bagus, langit” berjabat tangan dengan Early. “senang bertemu
dengamu” kata Early. “Semoga menikmati liburanmu. Oh ya saya harus pergi. Ada
urusan yang harus saya selesaikan. permisi” tersenyum pada Early, lalu pergi.
“Emmm kek boleh nanya.” Tanyaku tiba
tiba. “Boleh, tanya apa?” jawab kakek sambil melihat pemandangan. “Langit masih
sekolah?” Tanyaku. “Masih, dia 1 tahun lebih tua dari kamu, kelas XII. Memangnya kenapa?” tanya
balik kakek. “tidak Cuma tanya aja. Kok dia terlihat dewasa sekali” tersenyum.
“iya iya lah. Orang tuanya mendidiknya dengan baik dari kecil. Kakek tau itu”
jawab kakek. Aku dan kakek melanjutkan perjalanan kami. Matahari sudah hampir
tinggi. Untunya aku dan kakek sudah sampai di rumah. Didepan rumah kami cuci
kaki dan tangan. Tercium bau sedap masakan nenek, yaitu sambal lele. Perutku
mulai berbunyi. Cacing diperut sudah mulai festival musik hehehe. Aku segera
berlari mendahului kakek masuk ke rumah. Lalu kami menikamti makan siang bersama.
Setelah itu aku pergi ke kamar, dan merebahkan tubuhku ke tempat tidur.
Terbesit dalam pikiranku tentang Langit. Mengingat nama Langit aku jadi ingat
teman temanku di Bandung. Aku meyukai salah satu teman juga sahabatku. Namanya
juga Langit. Aku, Langit, Marsya, Binar, Bintang dan Aulia adalah sahabat. Kami
begitu dekat saat kita masih duduk kelas X. Tapi begitu kami mengijak di kelas
XI kami sedikit menjauh. Lebih tepatnya aku sedikit jauh. Mungkin karena mereka
memiliki kelebihan atau kemampuan lebih dari aku. Yaa kami adalah pengurus osis
di sekolah kami. Kini kami kelas XI, kami jadi senior bagi junior kami kelas X.
Mungkin semakin hari mereka semakin berkembang cepat. Sedangkan aku lebih
lambat mungkin berkembang mengikuti semua. Jadi mereka seperti sedikit menjauh.
Entah memang menjauh atau hanya ada sesuatu. Berbicara tentang “SUKA”, aku
liburan ke sini, juga ingin melupakan Langit, orang yang aku sukai. Ak rela
liburan sendiri tanpa orang tua hanya ingin melupakan Langit. Tapi ternyata aku
disini bertemu anak bernama Langit. Semakin aku tak bisa melupakan Langit. Aku
terus berpikir hingga tertidur. Dan saat aku bangun, jam sudah menunjukkan pukul
16.30. Segara aku bangun dan berlari ke kamar mandi, lalu melaksanakan sholat
Ashar. Lalu aku ikut bergabung dengan kakek nenek yang asyik menonton TV.
Hingga tak sadar jam menunjukkan pukul
18.00. aku pergi melaksanakan sholah maghrib, lalu membantu nenek menyiapakan
makan malam. Setelah isya, nenek dan kakek istirahat di kamar. Tapi aku masih
belum mengantuk. Akhirnya aku lebih memilih untuk membaca buku di kamar. Keesokkan
harinya, seperti yang biasa aku lakukan mandi, membantu nenek, lalu makan dan membantu
kakek. Tapi untuk kali ini, aku jalan jalan tanpa ditemani kakek. Ditengah
perjalanan, aku bertemu dengan Langit. Akhirnya dia menemaniku jalan jalan. Tak
terasa sudah 1 minggu aku liburan di desa. Dan sudah 1 minggu pula aku dan
Langit saling mengenal dan berteman. Karena urusan orang tua sudah selesai.
Akhirnya aku memutuskan untuk pulang, dan menikmati sisa liburanku di Bandung.
Saat aku berpamitan kepada nenek dan kakek, tiba tiba Langit datang untuk
mengucapkan selamat tinggal padaku. Dan dia juga memberikan sesuatu padaku,
“Ini hadiah pertemanan sekaligus hadiah perpisahan dariku. Semoga kamu
menyukainya”. Aku menerimanya,“Terima kasih. Dan maaf aku tak bisa memberikan
apa apa untukmu(tersenyum)”. “tak apa, oh ya aku harus pergi. Selamat tinggal
dan sampai jumpa” katanya dan pergi, sambil malambaikan tangan. Ku balas dengan
lambaian tangan dan senyuman. Dalam perjalanan pulang, aku terus memperhatikan
bungkusan itu, aku berpikir itu adalah sebuah buku dan aku berniat membukanya.
Tetapi aku tahan hingga nanti dirumah.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk
kamar dan membuka bungkusan itu. Ternyata memang benar itu adalah sebuah buku.
Sebuah buku cerita berjudul “BUMI CINTAKU, LANGIT SAYANGKU”. Dan terdapat sepucuk surat diatasnya, yang
isinya:

To
Early
Hai Early, saat kamu baca surat ini,
mungkin kita sudah tak bertemu lagi. Kamu pulang ke Bandung, dan aku pergi
Australia untuk melanjutkan sekolah. Pertemuan yang singkat di antara kita.
Tapi aku sudah seperti mengenalmu lama. Sudah mulai memahamimu. Dan saat aku
sudah mulai menyukaimu, kamu harus pulang ke Bandung. Ohh yaa,, buku yang aku
kasih ke kamu di baca yaa.. cerita lumayan asik lhoo. Aku sengaja ngasih hadiah
kamu buku itu, karena aku pengen kamu tau arti sesungguhnya dari “3 kata, 8 huruf dan 1 makna” kamu pasti tau. Walau judul dan isinya yang
aku sebutkan tak sama, tak inti dari ceritanya yaa.. 2 hal itu. Semoga kamu
senang menerimanya. Sekian surat dari aku. Jika ada waktu aku akan memberimu
kabar,,,, bye... J
Nb:
081515021xxx (itu nomer hpku jika ada waktu hubungi aku)
From
Langit Sang C
<ohh
kak Langit.. maafkan aku tak bisa memberimu apapun. Makasih kak Langit>
kataku dalam hati. Segera aku letakkan buku itu diatas tempat tidur, dan aku
bergegas turun untuk makan siang. Setelah aku makan siang, aku pergi ke kamar,
dan berniat membaca buku saat Hpku berdering. Kulihat siapa yang mengirimiku
sms. Tak ku sangka ternyata Langit sahabatku. Dia memberitahukan bahwa untuk
seluruh pengurus osis, untuk datang ke sekolah pukul 09.00 untuk rapat. <ku
kira ada apa> dalam hatiku. Ku balas :”iya, jika tak ada acara”. Karena aku ingat papa bilang abhwa besok mungkin
akan ada pertemuan keluarga besok pagi. Setelah membalas sms dari Langit, aku
mulai mebaca buku dari kak Langit. Buku setebal 321 halaman tersebut bukan
membuat malas mebaca, tetapi malah membuatku semangat, karena cover buku yang
bagus, judul yang menarik dan prolog cerita yang asyik. Ditambah buku itu
pemberian dari kak Langit. Membuat ingin sekali membaca. Halaman demi halaman
kubaca. Tak terasa jam menunjukkan pukul 17.15 segera aku berlari ke kamar
mandi, lalu sholat ashar. Aku tetap berada di tempat sambil menunggu adzan
maghrib. Sambil menunggu, aku merenung. Mengingat semua kenangan masa masa aku
di kelas X bersama sahabat sahabatku. Adzan magrib telah berkumandang. Aku
bergegas mengambil air wudhu lagi, takut jikalau air wudhuku sholat ashar tadi
sudah batal. Aku melaksanakan sholat magrib. Setelah selesai aku menyempatkan
membaca buku tersebut beberapa halaman, lalu turun ke meja makan untuk makan
malam. Setelah makan, aku tak langsung ke kamar. Karena aku, papa dan mama akan
fiting baju untuk acara pertemuan keluarga besok. Aku pergi ke ruang fiting lebih
dulu. Yaaa dirumah aku ditempat untuk sholat, ada tempat untuk belajar, dan ada
tempat untuk menaruh semua baju baju kami. Dan si situlah tempat kami fiting
baju. Setelah kami masing masing sudah mendapatkan baju yang pas dan mirip satu
sama lain, ake segera naik ke atas untuk membaca buku di kamar. Jika sudah mulai
malam, aku tak suka membaca buku di bawah. Aku lebih suka membaca buku di
kamar. Aku melanjutkan membaca. Hingga aku sampai pada bagian dimana Bumi mulai
merasa minder, saat rasa cintanya pada Langit. Yaa memang dalam buku itu,
seluruh pemerannya adalah benda benda mati dan benda tata surya. Saat aku
membaca bagian itu, aku teringat akan Langit sahabatku, yang kini sedang aku
sukai. Aku merasa seperti dalam posisi Bumi yang ada dalam cerita. Sama sekali
tak PD saat aku menyukai Langit. Sama sama bernama Langit. Aku mulai merenung.
Dan tanpa sadar air mata menetes membasahi buku itu. Segera aku usap air
mataku, dan ku lanjutkan membaca. Semakin aku terus melajutkan membaca, semakin
sering airmataku keluar. Dan semakin menyatu antara aku dan buku itu. Jam
menunujukkan pukul 22.00. Tapi aku tetap asyik membaca, hingga aku tertidur dan
buku itu terbuka diatas dadaku. Saat aku bangun, jendela kamar sudah terbuka,
dan baju pestaku sudah tergantung rapi. Aku segera mandi, lalu turun dengan
masih memakai baju tidur. Dan aku mamastikan pada orang tuaku, apakah acara
pertemuan itu akan diadakan, “Pa, apa acara keluarga ini jadi dilaksanakan? ”
tanyaku. “Ya jadilah. Kenapa kamu tanya seperti itu?” papa tanya balik padaku.
“Tidak. Aku cuman memastikan. Karena hari ini aku juga ada rapat di sekolah ”
jawabku. “ohh lebih baik kamu izin tak ikut. Karena acara ini penting. Apa
perlu papa yang mengijinkan?” tanya papa. “tak perlu pa, aku akan segera
hubungi mereka, bahwa aku tak bisa hadir” jawabku dengan nada sedikit kecewa.
Aku segera kembali ke kamar, mengambil Hp dan mengirim pesan ke pada Langit,
mengabari bahwa aku tak bisa ikut karena ada acara keluarga. Aku sedikit
kecewa, karena ini adalah kesempatanku untuk bertemu Langit setelah 1 minggu
liburan. Karena liburan masih lama. Beberapa menit kemudian Hpku berdering
tanda ada sms. Aku meletakkan kutexku di meja lalu mangambil hp. Seperti
kebiasaanku. Setiap akan ada acara, aku selalu ingin tampil sempurna. Ku lihat
Langit membalas smsku. Dia membalas: ”okkeh, tak apa, Have fun your holiday JL”. Setelah aku lihat emoction
itu, aku jadi tak mengerti. Kenapa setelah tersenyum dia menangis. Saat aku
ingin membalas smsnya, mama masuk ke kamar, dan mengingatkanku untuk segera
bersiap. Ku lirik Hpku, lalu aku lanjutkan merias diri. Menikmati acara hingga
malam, hingga aku lupa bahwa aku belum membalas sms dari Langit. Karena aku
kecape’an, setelah berganti baju, aku langsung tidur tanpa membaca buku itu,
dan tak membalas sms dari Langit. Keesokan harinya saat aku bangun, hpku
berdiring. Dengan mata yang masih ngatuk, aku lihat hapeku. Ternyata Bintang
menelponku. Karena mataku masih ngantuk, aku salah memencet tombol reject. Lalu
aku taruh hpku diatas meja, aku begegas ke kamar mandi hanya sekadar cuci muka,
lalu kembali mengambil hp dan mengirim sms pada Bintang: “maaf tadi kepencet.
Ada apa?”. Lalu aku kembali ke kamar mandi untuk mandi. Dari kamar mandi aku
mendengar mama memanggilku untuk segera turun, sarapan, “Early... ayo ceapat turun,
papa menunggu kamu untuk sarapan”. “iyaa maa sebentar. Masih mandi” kujawab
dengan suara keras dari dalam kamar mandi. Setelah mandi aku, aku segera turun
ke bawah. Saat aku akan keluar kamar, hpku berdering tanda sms. Segera ku ambil
dari meja, dan kubaca sambil turun tangga. Ternyata sms dari bintang: “hari ini
aku dan teman teman akan ke rumah, mungkin nanti siang”. Ku balas: “iya.. ada
apa?”. Lalu aku taruh hp di dekat piringku, dan aku duduk. Tepat setelah suapan
terakhir, hpku berdering, Bintang membalas smsku: “ada yang akan dibicarakan”.
Ku balas: “okkeh”. Lalu ku taruh hpku di dekat telpon rumah. Dan aku membantu
mama mebereskan meja makan. Lalu ku ambil hpku, dan berlari ke kamar, untuk
melanjutkan membaca. Saat aku sampai dibagian yang menyadihkan. Aku
menangis.Tak terasa tangisku membuatku mengantuk, aku ketiduran. Aku
dibangunkan mama, karena teman temanku datang. Segera aku berlari ke kamar
mandi untuk cuci muka. Aku turun menemui mereka. “heyy. duduk”. Sapaku dengan
sedikit mengantuk. “hey. Bangun tidur yaa..” tanya Binar. “ehh habis nangis
deh” timpal Aulia. “tidak kok, aku cuman baru bangun tidur.” Jawabku kaget.
“ahh tapi matamu tak bisa bohong” balas Binar. Aku hanya tersenyum, dan ikut
duduk bersama mereka. “ada apa?” langsung ku mulai percakapan. “kami ke sini
mau mebicarakan tentang........”. aku dan mereka mulai berbincang bincang
dengan mereka membicarakan tentang masalah kami. Setelah dirasa cukup, mereka
berpamitan pulang. “oke, kami pulang dulu ya” kata Langit. Aku terdiam sejenak.
“ohh yayaya”(tersenyum) jawabku dengan sedikit kaget. “Kenapa?”(heran) tanya
Marsya. “takk”(tersenyum) jawabku. Mereka pulang dan aku segera kembali ke
kamar untuk membaca buku cerita itu. aku menikmati cerita itu. Hingga aku
sampai pada bagian saat bumi dan Langit bertemu dirumah bumi. Setelah ku pikir
pikir. Cerita ini sedikit mirip dengan kebiasaan dan kejadian kejadian yang
pernah aku alami. Mulai dari bersahabat, lalu bumi jatuh cinta pada langit.
Awan pun seperti menyukai langit. Bumi merasa minder. Lalu mereka sedikit
seperti menjauh dari bumi. Tapi mereka tak tau dan tak sadar kalau bumi
menyukai langit, dan sedikit minder dengan temannya. Mereka masih saling
bertemu seperti biasa. Tapi bumi lebih diam. Mirip sekali dengan kejadianku.
Pikiranku melayang jauhh. Akhirnya segera ku ambil hp, ku buka laciku. Ku ambil
surat dari Kak Langit. Aku mengirimkan sms padanya, hanya untuk menanyakan
kabar, dan memberitahu nomerku. Ternyata
baru beberapa menit, dia membalas nomerku. Akhirnya selain membaca cerita, aku
juga smsan dengan Kak Langit. Ditengah tengah sms, aku memberanikan diri untuk
bertanya tentang buku itu.

“kak,,
kakak dapet buku ini dari mana?” tanyaku.
“ohh.
Aku dapat dari kakekku. Dia memberikanku saat aku sedang patah hati J kenapa?” jawabnya
“berarti
kakak memberikan kepadaku karena aku patah hati L ” tanyaku lagi
“ya
tidak... J aku
memberikannya, karena aku pikir, kamu akan suka. Karena cerita menarik ”
jawabnya
“ohh..
ya ni kak,, aku lagi baca buku ini,, udah sampe dihalaman yang lumayan jauh.
Dan kupikir pikir, kok cerita ini mulai dari awal hingga kesini mirip sekali
dengan ceritaku. Aku bingung” kataku
“lohh
benarkah... padahal buku itu juga mirip sama ceritaku sejak awal. Dan sedangkan
cerita cinta kita berbeda. Kok bisa” tanyanya
“aku
juga tidak tau. Apa ceritanya bisa berubah sendiri?” tanyaku balik
“coba
ceritakan sedikit dalam buku itu” pintanya
“oke,,
sebentar aku telpon kakak saja” jawabku
Akhirnya aku ceritakan sedikit padanya
melalui telepon. Dan ternyata dalam buku yang berjudul sama, ternyata isi dari
cerita juga berbeda. Yang membaca berbeda isinya berbeda. Berbeda cerita
kehidupan, berbeda pula isi dari buku itu. aku semakin heran pada buku itu.
cerita dalam buku itu bisa berubah. Tapi judul yang sama. Dan anehnya walau
cerita berbeda dalam 1 buku, dan judulnya sama, tapi antara judul dengan isinya
tetap satu atau masih berkesinambungan. Seperti tak ada perubahan. Aku tetap
melanjutka membaca, dengan dihatui rasa heran. Hari hariku selama liburan, jika
ada waktu luang hanya buat untuk membaca cerita itu. Tepat hari terakhir aku
liburan, aku sampai pada lembar ke-5 dari belakang. <akhirnya mau selesai
juga> pikirku. Cerita itu semakin mendekati dengan aku dan hati. Mirip
seperti apa yang aku rasakan pada Langit, dalam cerita itu juga bumi pada
langit. Dan terhalang oleh awan, matahari, bulan dan bintang. Begitu dengan aku
terhalang kawan kawanku J. Akhirnya aku
selesai membaca cerita itu hingga akhir. Cerita yang membuat aku sedikit
jengkel dan terharu itu bisa membuatku menitihkan air mata. Bumi sama sekali
tak berani mengungkapkan perasaanya pada Langit. Bumi selalu mebuat langit
bahagia. Tanpa langit tau bahwa bumi mencintainya. Bumi lebih memilih
pertemanan dari pada cinta. Dia tak ingin persahabatanya rusak dengan langit,
awan, bulan bintang, matahari hanya karena rasa sukanya pada langit. Tapi bumi
tetap setia mencintainya LLL . Dan itu
sangat mirip denganku. Aku juga tak berani katakan pada langit. Aku tak ingin
bersahabatan kami rusak karena rasa sukaku pada langit. Benar kata kak Langit,
cerita ini mengisahkan arti sebenarnya dari “3 kata, 8 huruf, dan 1 makna”. Dan
bagaimana tentang buku yang ceritanya berganti. Aku dan Kak Langit punya
kesimpulan yang sama. Bahwa suatu masalah, masalah cinta ataupun yang lain,
masalah itu akan ada jalan keluarnya sendiri, dan memiliki rute untuk keluar
dari masalah itu sendiri berbeda satu sama lain, sesuai dengan bagaimana kita
menanggapi dan menjalani. Jadi buku itu juga akan menyesuaikan isinya dengan
siapa yang membacanya. Alhasil, aku janji akan aku simpan buku itu baik baik.
Jika suatu saat ada cerita baru dalam hidupku, mungkin buku itu bisa jadi teman
curhatku J
TAMAT
.jpg)
0 comments :
Post a Comment