Saturday, 7 March 2015

AKU DAN BUKU CINTA TUA



AKU DAN BUKU CINTA TUA

Mungkin sama sekali tak mungkin, benda benda tata surya bisa merasakan sesuatu yang biasa dirasakan oleh manusia,  yaitu “RASA CINTA“. Ya....kita pasti sudah tak asing lagi dengan yang namanya cinta. Ada suatu lirik “Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga”. Semua orang  didunia ini memiliki cinta. Dengan orang tuanya,anaknya,  keluarganya, temannya,dan  kekasihnya.Tapi pernah kalian tau, bahwa tak hanya manusia yang seperti. Benda benda pada tata suryapun merasakan seperti itu.

Pagi hari yang cerah aku membuka jendela kamarku. Ku hirup udara segar pedesaan. Udara yang belum sama sekali terkontaminasi oleh polusi kendaraan. Yaa... aku sedang liburan di desa, tepatnya dirumah nenekku. Lalu, segeraku rapikan tempat tidur, aku keluar dari kamar, lalu pergi ke dapur dan kusapa nenek yang sedang memasak sarapan di dapur.  Lalu aku pergi temui kakek yang sedang memberi makan ayam. Sebuah keluarga yang harmonis. Anak anak, dan cucu cucu mereka sudah mempunyai kehidupan sendiri. Jadi mereka hanya tinggal berdua. Hanya keluargakulah yang tinggal di kota tak jauh dari desa mereka. Jadi jika liburan datang, aku dan keluarga menyempatkan datang ke desa. Tapi untuk liburan kali ini, aku hanya sendiri liburan ke desa. Karena kedua orang tuaku ada tugas yang tak mungkin mereka tinggalkan. Tapi bagiku tak masalah, yang penting aku bisa liburan. Setelah bercengkrama, dan membantu kakek memberi makan ayam, aku segera bergegas pergi ke kamar mengambil handuk, dan berlari ke kamar mandi.
Air yang masih jernih. Airnya pun sangat dingin. Ditambah dengan udara pedesaan yang masih murni dan segar. Jadi tak mandipun mungkin masih segar hehehe. Setelah mandi, ku jemur handuk, dan pergi ke dapur bantu nenek siapkan sarapan. Yaa aku hanya bantu pindahin lauk pauk ke piring piring, dan taruh dimeja. Jujur saja,,, aku tak bisa masak. Jadi hanya itu yang bisa kau lakuin. Tapi paling tidak aku membantu mereka. “Kek, ayo makan, sarapan sudah siap”. Panggilku pada kakek. “Iya sebentar, kakek cuci tangan dulu.” Jawabnya. Keluarga yang sederhana, begitupun dengan makanannya. Tapi bukan makanan yang membuat enak, tapi suasana kebersamaan yang mebuat makanan ini nikmat. Setelah sarapan, aku pergi ke kamar untuk berganti baju. Yaa kakek sudah janji padaku, untuk menemani aku jalan jalan keliling desa.
Dalam perjalanan aku bertemu banyak orang, yang mengenalku dan kakek. Sayangnya aku tak terlalu mengenal mereka. Mungkin mereka tau aku sejak kecil, tetapi aku masih tak mengerti saat itu. Saat asyik aku melihat pemandangan, aku tak melihat jalan dan menabrak seorang laki laki. “Ehhh.. maaf maaf”. Katanya sambil mengulurkan tangannya . “ohh tidak aku yang harus minta maaf, aku terlalu asyik melihat pemandangan dak tidak lihat jalan”. Menerima uluran tangannya, lalu berdiri. “ohhh yaa tidak apa apa. (berpaling ke kakek) ehh kakek, sedang jalan jalan ya” katanya. “iyaa, menemani cucu keliling desa(tersenyum) dia lagi liburan. Oh ya ini cucu kakek namanya Early Talita Hardiningrat. Early ini, anak pak kades namanya Langit Sang Cahyana” jawab kakek. “Nama yang bagus, Early” berjabat tangan dengan langit. “namamu juga bagus, langit” berjabat tangan dengan Early. “senang bertemu dengamu” kata Early. “Semoga menikmati liburanmu. Oh ya saya harus pergi. Ada urusan yang harus saya selesaikan. permisi” tersenyum pada Early, lalu pergi.
“Emmm kek boleh nanya.” Tanyaku tiba tiba. “Boleh, tanya apa?” jawab kakek sambil melihat pemandangan. “Langit masih sekolah?” Tanyaku. “Masih, dia 1 tahun lebih tua dari  kamu, kelas XII. Memangnya kenapa?” tanya balik kakek. “tidak Cuma tanya aja. Kok dia terlihat dewasa sekali” tersenyum. “iya iya lah. Orang tuanya mendidiknya dengan baik dari kecil. Kakek tau itu” jawab kakek. Aku dan kakek melanjutkan perjalanan kami. Matahari sudah hampir tinggi. Untunya aku dan kakek sudah sampai di rumah. Didepan rumah kami cuci kaki dan tangan. Tercium bau sedap masakan nenek, yaitu sambal lele. Perutku mulai berbunyi. Cacing diperut sudah mulai festival musik hehehe. Aku segera berlari mendahului kakek masuk ke rumah. Lalu kami menikamti makan siang bersama. Setelah itu aku pergi ke kamar, dan merebahkan tubuhku ke tempat tidur. Terbesit dalam pikiranku tentang Langit. Mengingat nama Langit aku jadi ingat teman temanku di Bandung. Aku meyukai salah satu teman juga sahabatku. Namanya juga Langit. Aku, Langit, Marsya, Binar, Bintang dan Aulia adalah sahabat. Kami begitu dekat saat kita masih duduk kelas X. Tapi begitu kami mengijak di kelas XI kami sedikit menjauh. Lebih tepatnya aku sedikit jauh. Mungkin karena mereka memiliki kelebihan atau kemampuan lebih dari aku. Yaa kami adalah pengurus osis di sekolah kami. Kini kami kelas XI, kami jadi senior bagi junior kami kelas X. Mungkin semakin hari mereka semakin berkembang cepat. Sedangkan aku lebih lambat mungkin berkembang mengikuti semua. Jadi mereka seperti sedikit menjauh. Entah memang menjauh atau hanya ada sesuatu. Berbicara tentang “SUKA”, aku liburan ke sini, juga ingin melupakan Langit, orang yang aku sukai. Ak rela liburan sendiri tanpa orang tua hanya ingin melupakan Langit. Tapi ternyata aku disini bertemu anak bernama Langit. Semakin aku tak bisa melupakan Langit. Aku terus berpikir hingga tertidur. Dan saat aku bangun, jam sudah menunjukkan pukul 16.30. Segara aku bangun dan berlari ke kamar mandi, lalu melaksanakan sholat Ashar. Lalu aku ikut bergabung dengan kakek nenek yang asyik menonton TV.
Hingga tak sadar jam menunjukkan pukul 18.00. aku pergi melaksanakan sholah maghrib, lalu membantu nenek menyiapakan makan malam. Setelah isya, nenek dan kakek istirahat di kamar. Tapi aku masih belum mengantuk. Akhirnya aku lebih memilih untuk membaca buku di kamar. Keesokkan harinya, seperti yang biasa aku lakukan mandi, membantu nenek, lalu makan dan membantu kakek. Tapi untuk kali ini, aku jalan jalan tanpa ditemani kakek. Ditengah perjalanan, aku bertemu dengan Langit. Akhirnya dia menemaniku jalan jalan. Tak terasa sudah 1 minggu aku liburan di desa. Dan sudah 1 minggu pula aku dan Langit saling mengenal dan berteman. Karena urusan orang tua sudah selesai. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang, dan menikmati sisa liburanku di Bandung. Saat aku berpamitan kepada nenek dan kakek, tiba tiba Langit datang untuk mengucapkan selamat tinggal padaku. Dan dia juga memberikan sesuatu padaku, “Ini hadiah pertemanan sekaligus hadiah perpisahan dariku. Semoga kamu menyukainya”. Aku menerimanya,“Terima kasih. Dan maaf aku tak bisa memberikan apa apa untukmu(tersenyum)”. “tak apa, oh ya aku harus pergi. Selamat tinggal dan sampai jumpa” katanya dan pergi, sambil malambaikan tangan. Ku balas dengan lambaian tangan dan senyuman. Dalam perjalanan pulang, aku terus memperhatikan bungkusan itu, aku berpikir itu adalah sebuah buku dan aku berniat membukanya. Tetapi aku tahan hingga nanti dirumah.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar dan membuka bungkusan itu. Ternyata memang benar itu adalah sebuah buku. Sebuah buku cerita berjudul “BUMI CINTAKU, LANGIT SAYANGKU”.  Dan terdapat sepucuk surat diatasnya, yang isinya:
To Early
            Hai Early, saat kamu baca surat ini, mungkin kita sudah tak bertemu lagi. Kamu pulang ke Bandung, dan aku pergi Australia untuk melanjutkan sekolah. Pertemuan yang singkat di antara kita. Tapi aku sudah seperti mengenalmu lama. Sudah mulai memahamimu. Dan saat aku sudah mulai menyukaimu, kamu harus pulang ke Bandung. Ohh yaa,, buku yang aku kasih ke kamu di baca yaa.. cerita lumayan asik lhoo. Aku sengaja ngasih hadiah kamu buku itu, karena aku pengen kamu tau arti sesungguhnya dari “3 kata,  8 huruf dan 1 makna”  kamu pasti tau. Walau judul dan isinya yang aku sebutkan tak sama, tak inti dari ceritanya yaa.. 2 hal itu. Semoga kamu senang menerimanya. Sekian surat dari aku. Jika ada waktu aku akan memberimu kabar,,,, bye... J

Nb: 081515021xxx (itu nomer hpku jika ada waktu hubungi aku)
                                                                                                            From Langit Sang C


<ohh kak Langit.. maafkan aku tak bisa memberimu apapun. Makasih kak Langit> kataku dalam hati. Segera aku letakkan buku itu diatas tempat tidur, dan aku bergegas turun untuk makan siang. Setelah aku makan siang, aku pergi ke kamar, dan berniat membaca buku saat Hpku berdering. Kulihat siapa yang mengirimiku sms. Tak ku sangka ternyata Langit sahabatku. Dia memberitahukan bahwa untuk seluruh pengurus osis, untuk datang ke sekolah pukul 09.00 untuk rapat. <ku kira ada apa> dalam hatiku. Ku balas :”iya, jika tak ada acara”. Karena  aku ingat papa bilang abhwa besok mungkin akan ada pertemuan keluarga besok pagi. Setelah membalas sms dari Langit, aku mulai mebaca buku dari kak Langit. Buku setebal 321 halaman tersebut bukan membuat malas mebaca, tetapi malah membuatku semangat, karena cover buku yang bagus, judul yang menarik dan prolog cerita yang asyik. Ditambah buku itu pemberian dari kak Langit. Membuat ingin sekali membaca. Halaman demi halaman kubaca. Tak terasa jam menunjukkan pukul 17.15 segera aku berlari ke kamar mandi, lalu sholat ashar. Aku tetap berada di tempat sambil menunggu adzan maghrib. Sambil menunggu, aku merenung. Mengingat semua kenangan masa masa aku di kelas X bersama sahabat sahabatku. Adzan magrib telah berkumandang. Aku bergegas mengambil air wudhu lagi, takut jikalau air wudhuku sholat ashar tadi sudah batal. Aku melaksanakan sholat magrib. Setelah selesai aku menyempatkan membaca buku tersebut beberapa halaman, lalu turun ke meja makan untuk makan malam. Setelah makan, aku tak langsung ke kamar. Karena aku, papa dan mama akan fiting baju untuk acara pertemuan keluarga besok. Aku pergi ke ruang fiting lebih dulu. Yaaa dirumah aku ditempat untuk sholat, ada tempat untuk belajar, dan ada tempat untuk menaruh semua baju baju kami. Dan si situlah tempat kami fiting baju. Setelah kami masing masing sudah mendapatkan baju yang pas dan mirip satu sama lain, ake segera naik ke atas untuk membaca buku di kamar. Jika sudah mulai malam, aku tak suka membaca buku di bawah. Aku lebih suka membaca buku di kamar. Aku melanjutkan membaca. Hingga aku sampai pada bagian dimana Bumi mulai merasa minder, saat rasa cintanya pada Langit. Yaa memang dalam buku itu, seluruh pemerannya adalah benda benda mati dan benda tata surya. Saat aku membaca bagian itu, aku teringat akan Langit sahabatku, yang kini sedang aku sukai. Aku merasa seperti dalam posisi Bumi yang ada dalam cerita. Sama sekali tak PD saat aku menyukai Langit. Sama sama bernama Langit. Aku mulai merenung. Dan tanpa sadar air mata menetes membasahi buku itu. Segera aku usap air mataku, dan ku lanjutkan membaca. Semakin aku terus melajutkan membaca, semakin sering airmataku keluar. Dan semakin menyatu antara aku dan buku itu. Jam menunujukkan pukul 22.00. Tapi aku tetap asyik membaca, hingga aku tertidur dan buku itu terbuka diatas dadaku. Saat aku bangun, jendela kamar sudah terbuka, dan baju pestaku sudah tergantung rapi. Aku segera mandi, lalu turun dengan masih memakai baju tidur. Dan aku mamastikan pada orang tuaku, apakah acara pertemuan itu akan diadakan, “Pa, apa acara keluarga ini jadi dilaksanakan? ” tanyaku. “Ya jadilah. Kenapa kamu tanya seperti itu?” papa tanya balik padaku. “Tidak. Aku cuman memastikan. Karena hari ini aku juga ada rapat di sekolah ” jawabku. “ohh lebih baik kamu izin tak ikut. Karena acara ini penting. Apa perlu papa yang mengijinkan?” tanya papa. “tak perlu pa, aku akan segera hubungi mereka, bahwa aku tak bisa hadir” jawabku dengan nada sedikit kecewa. Aku segera kembali ke kamar, mengambil Hp dan mengirim pesan ke pada Langit, mengabari bahwa aku tak bisa ikut karena ada acara keluarga. Aku sedikit kecewa, karena ini adalah kesempatanku untuk bertemu Langit setelah 1 minggu liburan. Karena liburan masih lama. Beberapa menit kemudian Hpku berdering tanda ada sms. Aku meletakkan kutexku di meja lalu mangambil hp. Seperti kebiasaanku. Setiap akan ada acara, aku selalu ingin tampil sempurna. Ku lihat Langit membalas smsku. Dia membalas: ”okkeh, tak apa, Have fun your holiday JL”. Setelah aku lihat emoction itu, aku jadi tak mengerti. Kenapa setelah tersenyum dia menangis. Saat aku ingin membalas smsnya, mama masuk ke kamar, dan mengingatkanku untuk segera bersiap. Ku lirik Hpku, lalu aku lanjutkan merias diri. Menikmati acara hingga malam, hingga aku lupa bahwa aku belum membalas sms dari Langit. Karena aku kecape’an, setelah berganti baju, aku langsung tidur tanpa membaca buku itu, dan tak membalas sms dari Langit. Keesokan harinya saat aku bangun, hpku berdiring. Dengan mata yang masih ngatuk, aku lihat hapeku. Ternyata Bintang menelponku. Karena mataku masih ngantuk, aku salah memencet tombol reject. Lalu aku taruh hpku diatas meja, aku begegas ke kamar mandi hanya sekadar cuci muka, lalu kembali mengambil hp dan mengirim sms pada Bintang: “maaf tadi kepencet. Ada apa?”. Lalu aku kembali ke kamar mandi untuk mandi. Dari kamar mandi aku mendengar mama memanggilku untuk segera turun, sarapan, “Early... ayo ceapat turun, papa menunggu kamu untuk sarapan”. “iyaa maa sebentar. Masih mandi” kujawab dengan suara keras dari dalam kamar mandi. Setelah mandi aku, aku segera turun ke bawah. Saat aku akan keluar kamar, hpku berdering tanda sms. Segera ku ambil dari meja, dan kubaca sambil turun tangga. Ternyata sms dari bintang: “hari ini aku dan teman teman akan ke rumah, mungkin nanti siang”. Ku balas: “iya.. ada apa?”. Lalu aku taruh hp di dekat piringku, dan aku duduk. Tepat setelah suapan terakhir, hpku berdering, Bintang membalas smsku: “ada yang akan dibicarakan”. Ku balas: “okkeh”. Lalu ku taruh hpku di dekat telpon rumah. Dan aku membantu mama mebereskan meja makan. Lalu ku ambil hpku, dan berlari ke kamar, untuk melanjutkan membaca. Saat aku sampai dibagian yang menyadihkan. Aku menangis.Tak terasa tangisku membuatku mengantuk, aku ketiduran. Aku dibangunkan mama, karena teman temanku datang. Segera aku berlari ke kamar mandi untuk cuci muka. Aku turun menemui mereka. “heyy. duduk”. Sapaku dengan sedikit mengantuk. “hey. Bangun tidur yaa..” tanya Binar. “ehh habis nangis deh” timpal Aulia. “tidak kok, aku cuman baru bangun tidur.” Jawabku kaget. “ahh tapi matamu tak bisa bohong” balas Binar. Aku hanya tersenyum, dan ikut duduk bersama mereka. “ada apa?” langsung ku mulai percakapan. “kami ke sini mau mebicarakan tentang........”. aku dan mereka mulai berbincang bincang dengan mereka membicarakan tentang masalah kami. Setelah dirasa cukup, mereka berpamitan pulang. “oke, kami pulang dulu ya” kata Langit. Aku terdiam sejenak. “ohh yayaya”(tersenyum) jawabku dengan sedikit kaget. “Kenapa?”(heran) tanya Marsya. “takk”(tersenyum) jawabku. Mereka pulang dan aku segera kembali ke kamar untuk membaca buku cerita itu. aku menikmati cerita itu. Hingga aku sampai pada bagian saat bumi dan Langit bertemu dirumah bumi. Setelah ku pikir pikir. Cerita ini sedikit mirip dengan kebiasaan dan kejadian kejadian yang pernah aku alami. Mulai dari bersahabat, lalu bumi jatuh cinta pada langit. Awan pun seperti menyukai langit. Bumi merasa minder. Lalu mereka sedikit seperti menjauh dari bumi. Tapi mereka tak tau dan tak sadar kalau bumi menyukai langit, dan sedikit minder dengan temannya. Mereka masih saling bertemu seperti biasa. Tapi bumi lebih diam. Mirip sekali dengan kejadianku. Pikiranku melayang jauhh. Akhirnya segera ku ambil hp, ku buka laciku. Ku ambil surat dari Kak Langit. Aku mengirimkan sms padanya, hanya untuk menanyakan kabar, dan memberitahu  nomerku. Ternyata baru beberapa menit, dia membalas nomerku. Akhirnya selain membaca cerita, aku juga smsan dengan Kak Langit. Ditengah tengah sms, aku memberanikan diri untuk bertanya tentang buku itu.
“kak,, kakak dapet buku ini dari mana?” tanyaku.
“ohh. Aku dapat dari kakekku. Dia memberikanku saat aku sedang patah hati J kenapa?” jawabnya
“berarti kakak memberikan kepadaku karena aku patah hati L ” tanyaku lagi
“ya tidak... J aku memberikannya, karena aku pikir, kamu akan suka. Karena cerita menarik ” jawabnya
“ohh.. ya ni kak,, aku lagi baca buku ini,, udah sampe dihalaman yang lumayan jauh. Dan kupikir pikir, kok cerita ini mulai dari awal hingga kesini mirip sekali dengan ceritaku. Aku bingung” kataku
“lohh benarkah... padahal buku itu juga mirip sama ceritaku sejak awal. Dan sedangkan cerita cinta kita berbeda. Kok bisa” tanyanya
“aku juga tidak tau. Apa ceritanya bisa berubah sendiri?” tanyaku balik
“coba ceritakan sedikit dalam buku itu” pintanya
“oke,, sebentar aku telpon kakak saja” jawabku

            Akhirnya aku ceritakan sedikit padanya melalui telepon. Dan ternyata dalam buku yang berjudul sama, ternyata isi dari cerita juga berbeda. Yang membaca berbeda isinya berbeda. Berbeda cerita kehidupan, berbeda pula isi dari buku itu. aku semakin heran pada buku itu. cerita dalam buku itu bisa berubah. Tapi judul yang sama. Dan anehnya walau cerita berbeda dalam 1 buku, dan judulnya sama, tapi antara judul dengan isinya tetap satu atau masih berkesinambungan. Seperti tak ada perubahan. Aku tetap melanjutka membaca, dengan dihatui rasa heran. Hari hariku selama liburan, jika ada waktu luang hanya buat untuk membaca cerita itu. Tepat hari terakhir aku liburan, aku sampai pada lembar ke-5 dari belakang. <akhirnya mau selesai juga> pikirku. Cerita itu semakin mendekati dengan aku dan hati. Mirip seperti apa yang aku rasakan pada Langit, dalam cerita itu juga bumi pada langit. Dan terhalang oleh awan, matahari, bulan dan bintang. Begitu dengan aku terhalang kawan kawanku J. Akhirnya aku selesai membaca cerita itu hingga akhir. Cerita yang membuat aku sedikit jengkel dan terharu itu bisa membuatku menitihkan air mata. Bumi sama sekali tak berani mengungkapkan perasaanya pada Langit. Bumi selalu mebuat langit bahagia. Tanpa langit tau bahwa bumi mencintainya. Bumi lebih memilih pertemanan dari pada cinta. Dia tak ingin persahabatanya rusak dengan langit, awan, bulan bintang, matahari hanya karena rasa sukanya pada langit. Tapi bumi tetap setia mencintainya LLL . Dan itu sangat mirip denganku. Aku juga tak berani katakan pada langit. Aku tak ingin bersahabatan kami rusak karena rasa sukaku pada langit. Benar kata kak Langit, cerita ini mengisahkan arti sebenarnya dari “3 kata, 8 huruf, dan 1 makna”. Dan bagaimana tentang buku yang ceritanya berganti. Aku dan Kak Langit punya kesimpulan yang sama. Bahwa suatu masalah, masalah cinta ataupun yang lain, masalah itu akan ada jalan keluarnya sendiri, dan memiliki rute untuk keluar dari masalah itu sendiri berbeda satu sama lain, sesuai dengan bagaimana kita menanggapi dan menjalani. Jadi buku itu juga akan menyesuaikan isinya dengan siapa yang membacanya. Alhasil, aku janji akan aku simpan buku itu baik baik. Jika suatu saat ada cerita baru dalam hidupku, mungkin buku itu bisa jadi teman curhatku J

TAMAT

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

0 comments :

Post a Comment